
Kubur kosong adalah salah satu tanda bahwa Yesus telah bangkit. Memang hanya kubur kosong yang ditemukan para wanita dan murid-murid Yesus yang datang ke kubur saat kebangkitan-Nya. Namun kubur kosong bukanlah bukti bahwa Yesus bangkit, sebab orang-orang Yahudi mengatakan bahwa kubur kosong terjadi karena murid-murid Yesus dating malam-malam dan mencuri mayat-Nya sewaktu para penjaga sedang tidur (Mat 28:13,15). Maria Magdalena pun ketika melihat kubur terbuka mengatakan bahwa Tuhan telah diambil orang dari kuburNya dan tidak dikatakan kalau ia percaya Yesus telah bangkit (Yoh 20:1-2). Simon Petrus juga dating ke kubur Yesus, masuk di dalamnya, melihat kain kafan dan kain peluh, tetapi tidak ia katakana bahwa ia percaya bahwa Yesus telah bangkit, bahkan ia pulang dengan penuh tanda tanya (Yoh 20:3-7).
Kubur kosong bukan bukti bahwa Yesus telah bangkit. Penampakan dan pertemuan pribadi dengan Yesus yang bangkit adalah bukti otentik dan jaminan tak tersangkal. Pengalaman bertemu dengan Yesus yang bangkit itulah yang mendatangkan suka cita para murid dan meyakinkan mereka bahwa Yeus itu Tuhan. Dengan kata lain bertemu dengan Yesus yang bangkit mendatangkan keyakinan dan sukacita.
B. Sumber Sukacita
Pertemuan dengan Yesus yang bangkit melenyapkan ketakutan dan member sukacita. Para murid yang berkumpul di ruangan terkunci karena takut akan orang-orang Yahudi mengalami sukacita karena Yesus hadir di tengah-tengah mereka (Yoh 20:19-20). Secara implicit perubahan serupa juga dialami Maria Magdalena yang menangis karena mayat Tuhannya diambil orang (Yoh 20:13), tetapi pewahyuan Yesus yang bangkit telah memberinya sukacita, seperti yang terungkap dalam reaksinya mau memegang kaki Yesus (Yoh 20:17)
Pertemuan dengan Yesus yang bangkit member damai sejahtera. Damai sejahtera itu tidak seperti yang diberikan dunia, tetapi damai sejahtera yang melenyapkan kegelisahan dan kegetaran hati (Yoh 14:20). Yesus yang bangkit menghembusi para murid Roh Kudus yang member kehidupan baru, sebagaimana Allah menghembuskan nafas hidup kepada manusia ciptaanNya. Hal itu dikatakan Yesus sendiri sewaktu masih berada dihadapan publik “barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan Kitab Suci. Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima mereka yang percaya kepadaNya….” (Yoh 7:38-39). Pada waktu kematianNya Yesus menyerahkan nyawaNya dan air dan darahNya keluar dari lambungNya (Yoh 19:34), tetapi pada waktu kebangkitanNya Yesus memberikan Roh Kudus kepada para muridNya (Yoh 20:22). Hal ini berarti ada kaitannya antara Yesus tersalib dengan Yesus yang bangkit. Berkat penghembusan Roh itu damai sejahtera dan sukacita tetap tinggal bersama para murid.
Pertemuan dengan Yesus yang bangkit mendatangkan tugas perutusan. Maria Magdalena setelah mengenal dan mengakui Yesus sebagai Guru dan Tuhan (Yoh 20:16,18) mendapat tugas untuk menyampaikan berita kepada para murid. “Pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu” (Yoh 20:17). Pada waktu penampakan di ruang perjamuan terakhir pun Yesus mengutus para murid: “sama seperti Bapa mengutus AKu, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. (Yoh 20:21). Perubahan dari rasa takut menjadi damai sejahtera dan sukacita karena pertemuan dengan Yesus yang bangkit itulah harus diberitakan orang pada lain. Dengan demikian kebangkitan Yesus bagi semua orang sebagai sumber damai sejahtera dan sukacita.
Sumber: Surib Stanislius, OFMCap
Showing posts with label Katolisitas. Show all posts
Showing posts with label Katolisitas. Show all posts
31 March 2010
Paskah: Perayaan Iman dan Sukacita
A. Kubur Kosong
12 October 2009
Penghormatan kepada Bunda Maria
Mengapa Katolik menghormati Maria?
Umat Katolik menempatkan Maria sebagai tokoh khusus dikalangan para kudus dan mendapat penghormatan yang istimewa dalam Gereja Katolik. Penghormatan ini dilakukan karena Maria adalah ibu Yesus (Luk 2:6-7),Maria mengandung bukan dari Yusuf tetapi dari Roh Kudus (Mat 1:18-25), Maria penuh rahmat (Luk 1:28,30), sangat setia pada Allah (LUk 1:38), dan Maria sangat istimewa di dalam hidup Yesus (Yoh 19:27).
Maria menjadi teladan bagi umat katolik. Umat Katolik, yang juga percaya bahwa Maria pada akhir hidupNya telah diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Sebelum wafat di salib Yesus mengatakan kepada murid kesayanganNya sekaligus mengingatkan seluruh umat Kristiani, “inilah Ibumu.” (Yoh 19:27)
Mengapa bulan Mei dan Oktober sebagai Bulan Maria?
Menurut tradisi Gereja, bulan Mei dan Oktober dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria dengan berdoa Rosario setiap hari. Tradisi bulan Mei sebagai bulan Maria sudah dimulai sejak abad pertengahan. Pada awalnya, orang-orang kafir di Italia dan Jerman sudah mempunyai kebiasaan untuk menghormati dewa-dewi setiap bulan Mei. Ketika mereka menjadi Kristen, kebiasaan bulan Mei itu tetap dilanjutkan, tetapi bentuk penghormatannya diganti, bukan kepad dewa-dewi, melainkan kepada bunda Maria. Dalam perkembangannya, Paus Paulus VI (1962-1978) pada tanggal 1 Mei 1965 dengan ensiklik Marialis Cultus menegaskan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan kebiasaan yang amat bernilai
Sejarah Perkembangan Penghormatan terhadap Maria
Abad-abad pertama, Maria belum dihormati seperti sekarang. Orang-orang kudus dihormati sebab berkaitan dengan Markus 8:34 dan Luk 14:27; hanya para martir dan rasul yang dihormati karena mengikuti Yesus dalam kematiannya. Tapi, dengan merenungkan peranan Kristus sebagai adam baru, sejak abad II Maria dipandag sebagai hawa baru yang ikut membawa keselamatan karena taat pada kehendak Allah. Hawa ditipu oleh ucapan malaikat yang jahat, sehingga ia tidak taat kepada perintah Allah dan karenanya membawa kematian. Sedangkan Ibu Maria perawan yang setia, memperhatikan perkataan Malaikat perkataan Malaikat dengan baik dan karenanya melahirkan sumber keidupan bagi dunia dengan prsetujuanNya. Maka Maria digelari “hawa baru”, demikian santo Justinus mengatakan. Pada jaman santo Hieronimus dirumuskan: “kematian melalui hawa dan kehidupan melalui Maria”. Mulai abad ke-5 dirayakan beberapa pesta Santa Maria. Dan abad ke-6, di gereja-gereja Timur, lagu dan pujian mulai disusun dan gambar Maria mulai dilukis.
Sejak abad ke-14, para teolog, sastrawan, seniman, dan seluruh umat berlomba memuji Maria dan mengharapkan pertolongan melalui perantaraanNya. Timbullah devosi populer seperti sekarang ini, seperti Rosario, doa Angelus Dei, dan ziarah. Kadang-kadang cara penghormatan ini melampaui batas yang sehat dan rumusan pujian lebih puitis daripada teologis. Martin Luther (perintis Gereja Protestan Lutheran asal Jerman) mengecam car-cara ini dan menolak perantaraan Maria (seperti semua orang kudus lain) karena katanya mengecilkan perantaraan Kristus sebagai satu-satunya perantara antara Allah dan manusia (1 Tim 2:5). Di lain pihak, Luther mengormati Maria dan memujinya, misalnya dalam tafsiran tentang magnificat. Mak kontra reformasi membela serta mendorong penghormatan Bunda Maria sebagai khas Katolik karena di kalangan Protestan, Maria dan peranannya semakin ditinggalkan. Antara pertengahan abad ke-19 sampai Konsili Vatikan II, para teolog dan umat memperlihatkan devosi yang besar kepada Maria, antara lain tampak dalam pernyatan-pernyataan dogma tentang Maria (1854 dan 1950). Timbul juga tempat-tempat ziarah yang menarik ratusan orang seperti La Slette (1846), Lourdes (1855), dan Fatima (1917).
Devosi Maria
Devosi kepada Maria adalah kebaktian dalam bentuk doa tau perlakuan khusus (sikap) kepada Perawan Maria. Devosi sifatnya sekunder terhadap liturgi resmi Gereja. Tempatnya ada dalam “Cultus Privatus” (ibadat khusus) yang dianjurkan Gereja. Sedangkan tujuan akhir devosi adalah Allah. Gereja menggariskan, ibadat menghormati Maria secara hakiki berbeda dengan ibadat kepada Allah. Penghormatan kepada Maria tidak pernah menjadi tujuan akhir. Tujuan ibadat itu selalu melampaui dan mengatasi Perawan Maria Suci sendiri, yakni memuliakan dan meluhurkan Allah yang menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus. Karena itu tata peribadatan kepada Maria tidak boleh menggeserkan fungsi dan peranan Yesus sebagai perantara.
Devosi kepada Maria adalah jawaban orang beriman atas peranan Maria dalam rencana keselamatan Ilahi. Salah satu ungkapan adalah percaya pada penghormatan dalam syukur, hormat, dan permohonan seperti tampak dalam pesta-pesta Maria. Devosi Maria dibela oleh Konsili Nicea II (787) yang mengizinkan gambaran/patung boleh menjadi sarana menghormati dia yang digambarkan, misalnya: rosariao, Ave Maria, sekapulir, Legio Mariae, dll).
Dasar teologis untuk penghormatan yang sehat adalah konsili Vatikan II (GS 52-69) dan surat Apostolik “Marialis Cultus” (1974). “Memohon sesuatu dengan perantaraan seseorang apalagi yang kudus khususnya Maria berdasarkan iman Kristiani bahwa mereka yang kini sudah hidup bersama Kristus di bumi ini”. Salah satu pokok devosi adalah Maria tidak boleh disembah dan dihormati seperti Kristus dan Allah yang disembah. Sebab Maria tetap hanya manusia yang juga ditebus Kristus sejak saat Ia dikandung dalam ibuNya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa praktek kesalehan dan ibadat khusus kepada Perawan Maria hendaknya memiliki dasar biblis, bercorak luturgis, dan memperhatikan aspek ekumenis dan memperhatikan dimensi antropologis.
Dalam Alkitab ditegaskan bahwa tentang tanggapan khusus keberadaan Maria. Elizabet memujinya karena percaya akan kehendak Tuhan yang disampaikan melalui pesan Malaikat (Luk 1:45) dan karenanya akan dipuji segala angkatan (Luk 1:48). Maka selayaknyalah kita turut memuji Bunda Maria dalam devosi kita. Dikatakan bahwa Yesus hidup bersama Maria kira-kira 30 tahun. Waktu menjadi jelas bahwa misinya kepada bangsa Israel ditolak. Yesus mengurbankan diri di kayu salib untuk Israel baru. Maria mewakili Israel baru itu di jalan yang dilewati Yesus dengan salibNya dan di bukit Golgota (Yoh 19:25-27). Sewaktu umat baru ini berkumpul untuk mendoakan dan menantikan Roh Kudus, Maria berada di tengah-tengah umat Kristen pertama pada hari pentakosta yang menjadi hari kelahiran gereja (Kis 1:14, 2:1-4).
Sikap devosional yang tidak tepat telah memunculkan tudingan bahwa orang Katolik menyembah Maria. Memang diakui bahwa dalam beberapa praktek orang Katolik, Bunda Maria dipuja, dan disembah sebagai sumber pemberi keselamatan dengan sedemikian rupa. Bahkan dianggap sebagai “jimat” yang jitu dalam memberi penghiburan rohani. Kita memang sulit menilai mana semangat devosional yang otentik dan mana yang palsu. Kita hanya dapat mengatakan bahwa yang otentik senantiasa menempatkan Maria dalam kerangka penyelamatan putranya Yesus Kristus.
Devosi kepada Santa Perawan Maria seharusnya mengalir dari roh liturgi resmi Gereja. Apabila devosi lepas dari itu, dikuatirkan akan memunculkan budaya ‘Marianisme”. Tapi jika kita mengindahkan hakekat dan bobot liturgy dalam praktek devosi, kita kan terhindar dari bentuk devosi yang berakar dari perasaan religious yang berlebihan dan emosional belaka.
Maria diangkat ke Surga
Ada berita kuno mengatakan, Maria ikut rasul Yohanes dan meninggal di dekat Efesus (tempat Yohanes berkarya). Dalam suatu penglihatan di Jerman, Anna Katharina Emmerik (1772-1824) melihat puing rumah Yohanes di Efesus, turki. Tempatnya terletak pad suatu bukit 3 jam perjalanan di luar kota. Penggalian di tempat itu pada tahun 1891 menemukan pondasi abad I yang pada abad VI sudah diubah menjadi kapel Maria. Tempat itu dihormati orang Kristen dan Muslim.
Berita kuno lain menguatkan tradisi bahwa Maria meninggal di Yerusalem dekat kebun Zaitun dan dimakamkan. Namun, menurut legenda, semua rasul berkumpul di kamar Maria waktu ia meninggal (peristiwa ini ditetapkan Sana brigita dengan membuat tasbih Santa Brigita). Santa Brigita (1300-1373) adalah orang suci dari Swidia. Salah satu dari kedelapan anaknya adalah Santa Katarina. Tasbihnya terdiri dari 63 butir atau 63 kali salam Maria. Setelah 7 kali Salam Maria lalu diselingi doa Aku Percaya. Mengapa 63? Menurut cerita, Santa Maria meninggal pada usia 63 tahun dan melihat pengangkatannya ke surga (yang menjadi dogma ke-4 Gereja dan diimani oleh semua umat Katolik, bahkan menjadi peristiwa Mulia ke-4 dalam doa Rosario). Tidak dikatakan bahwa Maria tidak meninggal, tetapi jelas tubuh Maria tidak membusuk. Isi dogma ini tidak terdapat secara eksplisit dalam Alkitab. Api Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus yakin bahwa janji mengenai kebangkitan badan semua orang beriman dan persatuan mereka dengan Sang Penyelamat yang bangkit sudah dipenuhi Bunda Maria yang melahirkanNya sebagai manusia dan merupakan muridNya yang setia sampai akhir (di bukit Golgota dan hari pentakosta pertama).
Yang terbesar atau yang tertua?
Doa Bapa kami adalah doa yang terbesar dan diajarkan oleh Kristus endiri. Tetapi yang tertua adalah doa salam Maria yang diambil dari sapaan malaikat Gabriel kepada Maria ketika menyampaikan kabar suka cita. Bagian kedua doa Salam Maria (yang dimulai dari “Santa Maria….”) diubah oleh St. Cyrilus pada tahun 1451.
Sumber:
- Duta: Apa yang Anda Ketahuai tentang Maria?
- Teologi Sistematika 2
Maria menjadi teladan bagi umat katolik. Umat Katolik, yang juga percaya bahwa Maria pada akhir hidupNya telah diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Sebelum wafat di salib Yesus mengatakan kepada murid kesayanganNya sekaligus mengingatkan seluruh umat Kristiani, “inilah Ibumu.” (Yoh 19:27)
Mengapa bulan Mei dan Oktober sebagai Bulan Maria?
Menurut tradisi Gereja, bulan Mei dan Oktober dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria dengan berdoa Rosario setiap hari. Tradisi bulan Mei sebagai bulan Maria sudah dimulai sejak abad pertengahan. Pada awalnya, orang-orang kafir di Italia dan Jerman sudah mempunyai kebiasaan untuk menghormati dewa-dewi setiap bulan Mei. Ketika mereka menjadi Kristen, kebiasaan bulan Mei itu tetap dilanjutkan, tetapi bentuk penghormatannya diganti, bukan kepad dewa-dewi, melainkan kepada bunda Maria. Dalam perkembangannya, Paus Paulus VI (1962-1978) pada tanggal 1 Mei 1965 dengan ensiklik Marialis Cultus menegaskan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan kebiasaan yang amat bernilai
Sejarah Perkembangan Penghormatan terhadap Maria
Abad-abad pertama, Maria belum dihormati seperti sekarang. Orang-orang kudus dihormati sebab berkaitan dengan Markus 8:34 dan Luk 14:27; hanya para martir dan rasul yang dihormati karena mengikuti Yesus dalam kematiannya. Tapi, dengan merenungkan peranan Kristus sebagai adam baru, sejak abad II Maria dipandag sebagai hawa baru yang ikut membawa keselamatan karena taat pada kehendak Allah. Hawa ditipu oleh ucapan malaikat yang jahat, sehingga ia tidak taat kepada perintah Allah dan karenanya membawa kematian. Sedangkan Ibu Maria perawan yang setia, memperhatikan perkataan Malaikat perkataan Malaikat dengan baik dan karenanya melahirkan sumber keidupan bagi dunia dengan prsetujuanNya. Maka Maria digelari “hawa baru”, demikian santo Justinus mengatakan. Pada jaman santo Hieronimus dirumuskan: “kematian melalui hawa dan kehidupan melalui Maria”. Mulai abad ke-5 dirayakan beberapa pesta Santa Maria. Dan abad ke-6, di gereja-gereja Timur, lagu dan pujian mulai disusun dan gambar Maria mulai dilukis.
Sejak abad ke-14, para teolog, sastrawan, seniman, dan seluruh umat berlomba memuji Maria dan mengharapkan pertolongan melalui perantaraanNya. Timbullah devosi populer seperti sekarang ini, seperti Rosario, doa Angelus Dei, dan ziarah. Kadang-kadang cara penghormatan ini melampaui batas yang sehat dan rumusan pujian lebih puitis daripada teologis. Martin Luther (perintis Gereja Protestan Lutheran asal Jerman) mengecam car-cara ini dan menolak perantaraan Maria (seperti semua orang kudus lain) karena katanya mengecilkan perantaraan Kristus sebagai satu-satunya perantara antara Allah dan manusia (1 Tim 2:5). Di lain pihak, Luther mengormati Maria dan memujinya, misalnya dalam tafsiran tentang magnificat. Mak kontra reformasi membela serta mendorong penghormatan Bunda Maria sebagai khas Katolik karena di kalangan Protestan, Maria dan peranannya semakin ditinggalkan. Antara pertengahan abad ke-19 sampai Konsili Vatikan II, para teolog dan umat memperlihatkan devosi yang besar kepada Maria, antara lain tampak dalam pernyatan-pernyataan dogma tentang Maria (1854 dan 1950). Timbul juga tempat-tempat ziarah yang menarik ratusan orang seperti La Slette (1846), Lourdes (1855), dan Fatima (1917).
Devosi Maria
Devosi kepada Maria adalah kebaktian dalam bentuk doa tau perlakuan khusus (sikap) kepada Perawan Maria. Devosi sifatnya sekunder terhadap liturgi resmi Gereja. Tempatnya ada dalam “Cultus Privatus” (ibadat khusus) yang dianjurkan Gereja. Sedangkan tujuan akhir devosi adalah Allah. Gereja menggariskan, ibadat menghormati Maria secara hakiki berbeda dengan ibadat kepada Allah. Penghormatan kepada Maria tidak pernah menjadi tujuan akhir. Tujuan ibadat itu selalu melampaui dan mengatasi Perawan Maria Suci sendiri, yakni memuliakan dan meluhurkan Allah yang menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus. Karena itu tata peribadatan kepada Maria tidak boleh menggeserkan fungsi dan peranan Yesus sebagai perantara.
Devosi kepada Maria adalah jawaban orang beriman atas peranan Maria dalam rencana keselamatan Ilahi. Salah satu ungkapan adalah percaya pada penghormatan dalam syukur, hormat, dan permohonan seperti tampak dalam pesta-pesta Maria. Devosi Maria dibela oleh Konsili Nicea II (787) yang mengizinkan gambaran/patung boleh menjadi sarana menghormati dia yang digambarkan, misalnya: rosariao, Ave Maria, sekapulir, Legio Mariae, dll).
Dasar teologis untuk penghormatan yang sehat adalah konsili Vatikan II (GS 52-69) dan surat Apostolik “Marialis Cultus” (1974). “Memohon sesuatu dengan perantaraan seseorang apalagi yang kudus khususnya Maria berdasarkan iman Kristiani bahwa mereka yang kini sudah hidup bersama Kristus di bumi ini”. Salah satu pokok devosi adalah Maria tidak boleh disembah dan dihormati seperti Kristus dan Allah yang disembah. Sebab Maria tetap hanya manusia yang juga ditebus Kristus sejak saat Ia dikandung dalam ibuNya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa praktek kesalehan dan ibadat khusus kepada Perawan Maria hendaknya memiliki dasar biblis, bercorak luturgis, dan memperhatikan aspek ekumenis dan memperhatikan dimensi antropologis.
Dalam Alkitab ditegaskan bahwa tentang tanggapan khusus keberadaan Maria. Elizabet memujinya karena percaya akan kehendak Tuhan yang disampaikan melalui pesan Malaikat (Luk 1:45) dan karenanya akan dipuji segala angkatan (Luk 1:48). Maka selayaknyalah kita turut memuji Bunda Maria dalam devosi kita. Dikatakan bahwa Yesus hidup bersama Maria kira-kira 30 tahun. Waktu menjadi jelas bahwa misinya kepada bangsa Israel ditolak. Yesus mengurbankan diri di kayu salib untuk Israel baru. Maria mewakili Israel baru itu di jalan yang dilewati Yesus dengan salibNya dan di bukit Golgota (Yoh 19:25-27). Sewaktu umat baru ini berkumpul untuk mendoakan dan menantikan Roh Kudus, Maria berada di tengah-tengah umat Kristen pertama pada hari pentakosta yang menjadi hari kelahiran gereja (Kis 1:14, 2:1-4).
Sikap devosional yang tidak tepat telah memunculkan tudingan bahwa orang Katolik menyembah Maria. Memang diakui bahwa dalam beberapa praktek orang Katolik, Bunda Maria dipuja, dan disembah sebagai sumber pemberi keselamatan dengan sedemikian rupa. Bahkan dianggap sebagai “jimat” yang jitu dalam memberi penghiburan rohani. Kita memang sulit menilai mana semangat devosional yang otentik dan mana yang palsu. Kita hanya dapat mengatakan bahwa yang otentik senantiasa menempatkan Maria dalam kerangka penyelamatan putranya Yesus Kristus.
Devosi kepada Santa Perawan Maria seharusnya mengalir dari roh liturgi resmi Gereja. Apabila devosi lepas dari itu, dikuatirkan akan memunculkan budaya ‘Marianisme”. Tapi jika kita mengindahkan hakekat dan bobot liturgy dalam praktek devosi, kita kan terhindar dari bentuk devosi yang berakar dari perasaan religious yang berlebihan dan emosional belaka.
Maria diangkat ke Surga
Ada berita kuno mengatakan, Maria ikut rasul Yohanes dan meninggal di dekat Efesus (tempat Yohanes berkarya). Dalam suatu penglihatan di Jerman, Anna Katharina Emmerik (1772-1824) melihat puing rumah Yohanes di Efesus, turki. Tempatnya terletak pad suatu bukit 3 jam perjalanan di luar kota. Penggalian di tempat itu pada tahun 1891 menemukan pondasi abad I yang pada abad VI sudah diubah menjadi kapel Maria. Tempat itu dihormati orang Kristen dan Muslim.
Berita kuno lain menguatkan tradisi bahwa Maria meninggal di Yerusalem dekat kebun Zaitun dan dimakamkan. Namun, menurut legenda, semua rasul berkumpul di kamar Maria waktu ia meninggal (peristiwa ini ditetapkan Sana brigita dengan membuat tasbih Santa Brigita). Santa Brigita (1300-1373) adalah orang suci dari Swidia. Salah satu dari kedelapan anaknya adalah Santa Katarina. Tasbihnya terdiri dari 63 butir atau 63 kali salam Maria. Setelah 7 kali Salam Maria lalu diselingi doa Aku Percaya. Mengapa 63? Menurut cerita, Santa Maria meninggal pada usia 63 tahun dan melihat pengangkatannya ke surga (yang menjadi dogma ke-4 Gereja dan diimani oleh semua umat Katolik, bahkan menjadi peristiwa Mulia ke-4 dalam doa Rosario). Tidak dikatakan bahwa Maria tidak meninggal, tetapi jelas tubuh Maria tidak membusuk. Isi dogma ini tidak terdapat secara eksplisit dalam Alkitab. Api Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus yakin bahwa janji mengenai kebangkitan badan semua orang beriman dan persatuan mereka dengan Sang Penyelamat yang bangkit sudah dipenuhi Bunda Maria yang melahirkanNya sebagai manusia dan merupakan muridNya yang setia sampai akhir (di bukit Golgota dan hari pentakosta pertama).
Yang terbesar atau yang tertua?
Doa Bapa kami adalah doa yang terbesar dan diajarkan oleh Kristus endiri. Tetapi yang tertua adalah doa salam Maria yang diambil dari sapaan malaikat Gabriel kepada Maria ketika menyampaikan kabar suka cita. Bagian kedua doa Salam Maria (yang dimulai dari “Santa Maria….”) diubah oleh St. Cyrilus pada tahun 1451.
Sumber:
- Duta: Apa yang Anda Ketahuai tentang Maria?
- Teologi Sistematika 2
06 May 2009
Pemahaman Dasar Devosi Bunda Maria
Devosi kepada Bunda Maria adalah salah satu dari aneka macam devosi yang muncul di dalam Gereja Katolik. Devosi kepada Bunda Maria telah menjadi kekayaan tradisi Gereja yang cukup memiliki peran dalam hal menghidupkan olah kesalehan dan menggairahkan kehidupan beriman umat. Ada beberapa bentuk ungkapan devosi kepada Bunda Maria. Salah satu bentuk yang boleh dikatakan paling populer adalah doa rosario.
Di dalam kalender liturgi Gereja, terdapat dua bulan yang secara khusus diperuntukkan memberi penghormatan secara khusus kepada Bunda Maria, yaitu bulan Mei dan bulan Oktober. Aktivitas devosi kepada Bunda Maria biasanya cukup marak dilaksanakan pada bulan-bulan ini, baik doa rosario maupun kegiatan ziarah. Tentulah selalu ada umat beriman saleh yang dengan rajin dan tekun tetap melaksanakan aktivitas devosional kepada Bunda Maria pada waktu-waktu lain di luar bulan Mei dan Oktober.
Bukan tidak mungkin akrivitas devosional kepada Bunda Maria yang sangat marak di dalam Gereja Katolik itu bisa mengarah kepada penghayatan yang kurang tepat atau bahkan keliru lantaran kurangnya pemahaman dan pengetahuan yang memadahi tentang hal-hal dasar yang harus diketahui dan dipahami sebagai seorang beriman Katolik yang mau mengungkapkan hormat dan cintanya kepada Bundanya yang tercinta, Maria.
Karena itulah tulisan kecil dan sederhana ini mau mencoba menyajikan uraian singkat tentang beberapa hal mendasar yang kiranya amat penting bahkan harus diketahui agar seseorang dapat melaksanakan olah kesalehannya berupa aktivitas devosional kepada Bunda Maria secara benar. Harapannya, dengan pemahaman yang benar tentang beberapa persoalan yang mendasar ini, seseorang sungguh diantar untuk mencapai penghayatan hidup beriman Katolik yang benar pula.
Beberapa pemahaman penting di seputar devosi kepada Bunda Maria
1. Maria “Bunda Pengantara”
Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara manusia dengan Allah. Namun, di dalam Gereja Katolik terdapat pula pemahaman tentang Bunda Maria sebagai pengantara. Maka, muncullah pemahaman bahwa seolah-olah ada dua pengantara, yaitu Yesus dan Maria. Bagaimana ini harus dijelaskan?
Satu tampilan peristiwa dalam Injil Lukas dapat kita lihat untuk lebih memahami tentang keperantaraan Maria, yaitu peristiwa kabar sukacita (Luk 1:26-38) dan peristiwa kalvari (Luk 23:33-43). Dalam peristiwa Kalvari, Yesus jelas tampil sebagai wakil seluruh umat manusia. Dia mempersembahkan korban demi manusia, menjadi penebus dunia. Kodrat pribadi Yesus sebagai Allah sekaligus manusialah yang memungkinkan peristiwa penebusan ini bisa terjadi. Sebagai yang benar-benar Allah sekaligus benar-benar manusia, Yesus adalah pengantara sempurna antara manusia dengan Allah dan Allah dengan manusia.
Dalam peristiwa kabar sukacita (Luk 1:26-38) ditampilkan Allah yang melalui Malaikat Gabriel memilih Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus yang adalah Putra Allah yang akan menjadi pengantara antara manusia dengan Allah dan Allah dengan manusia. Dalam peristiwa ini Maria tampil sebagai “wakil” umat manusia seluruhnya tanpa kecuali. Sebagai wakil manusia, Maria dengan bebas menyatakan kesepakatannya untuk menjadi “sarana” kehadiran Yesus, Putera Allah ke dunia. Berangkat dari peristiwa ini, Maria berada pada posisi istimewa, yaitu menjadi wakil umat manusia berhadapan dengan rencana keselamatan Allah. Di dalam konteks rencana Allah ini Maria memiliki peran yang “aktif”. Keaktifan peran Maria ditunjukkan dengan jawaban “ya” atas rencana Allah. Jawaban “ya” inilah yang kemudian melahirkan Yesus ke dunia.
Kerelaan Allah untuk memilih Maria sebagai bunda yang melahirkan Yesus dan kesediaan Maria atas pilihan Allah yang diwujudkan dengan jawaban “ya” serta hubungan yang begitu erat dan mesra antara Maria dan Puteranya Yesus inilah yang dapat menempatkan Maria pada posisi yang istimewa, yaitu sebagai “Bunda Pengantara”. Namun, harus ditegaskan bahwa keperantaraan Maria tidaklah sama dengan keperantaraan Kristus sebagai salah satu dari pribadi Allah Tritunggal. Keperantaraan Maria itu tidak pula mengurangi maupun menyumbang sedikit pun untuk keperantaraan Kristus. Keperantaraan Maria adalah keperantaraan yang sejajar dengan keperantaraan para kudus yang lain yang sudah berada di sorga, yaitu dalam arti sebagai “pembantu”, pembicara, penolong, pendoa kaum beriman. Namun demikian Konsili Vatikan II dalam dokumennya Lumen Gentium art. 53 secara khusus menegaskan bahwa karena rahmat istimewa, Bunda Maria adalah manusia yang paling unggul di antara semua manusia atau makhluk lainnya. Karena itulah, dibandingkan dengan orang kudus lain keperantaraan Maria adalah yang paling unggul.
2. Maria “Bunda Gereja”
Teks Yoh 19:26-27 menceriterakan Maria yang berdiri di bawah salib bersama dengan murid yang dikasihi-Nya. Yesus berkata kepada ibu-Nya, “Inilah anakmu”, lalu kepada murid itu, “Inilah ibumu”. Tampaklah dalam peristiwa ini bahwa di tiang penyaliban, Yesus menyatakan keibuan rohani Maria bagi semua orang beriman. Hal ini berarti, Maria mempunyai peranan khusus dalam karya penyelamatan. Murid yang dikasihi Yesus, anggota Gereja, dipercayakan kepada ibu-Nya, Maria. Murid yang dikasihi Yesus adalah lambang Gereja. Dengan demikian Maria adalah ibu orang beriman, ibu Gereja.
Berangkat dari Kis 1:14, setelah peristiwa kenaikan Yesus ke surga, peranan Maria sebagai bunda orang beriman tampak ketika Maria bersama, senasib, bersatu dalam komunitas atau paguyuban rasuli, berada di pihak murid-murid Yesus, yakni Gereja. Ini terjadi sebelum peristiwa Pentekosta. Pada saat penantian ini (penantian kedatangan Roh Kudus), Bunda Maria bersama para murid berdoa bersama. Dalam komunitas rasuli inilah kebundaan Maria tampil. Sebagaimana peran kebundaannya dahulu ketika “mengasuh” Yesus, kini dia mendampingi para muridnya sekaligus tampil menjadi suri teladan bagi para murid Yesus. Karena itulah, pada saat ini, kita sebagai anggota Gereja, dapat menghayati kebundaan Maria sebagai “pengikat” kita di dalam satu keluarga Allah yang sedang berjuang di dunia, berziarah menuju kepada penggenapan janji Kristus yaitu kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman.
3. Sekilas tentang sejarah doa rosario dan makna doa Salam Maria
Sekilas tentang sejarah doa rosario
Bulan Oktober adalah bulan yang secara khusus ditetapkan oleh Gereja Katolik sebagai bulan Rosario. Doa Rosario sendiri pada awalnya mulai populer pada zaman St. Dominikus yang wafat pada tahun 1221. Kemudian, sebuah peristiwa penting terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571, yaitu peristiwa kemenangan orang-orang Kristen dalam perang melawan tentara Islam Turki. Kemenangan diraih berkat doa Rosario sehingga Paus Pius V waktu itu menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta “Bunda Kemenangan” guna mengenang peristiwa kemenangan itu. Baru kemudian tahun 1960 Paus Pius X menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari pesta yang diberi nama “Pesta Bunda Maria Ratu Rosario”
Sampai pada saat ini doa Rosario telah menjadi salah satu bentuk doa yang amat populer di kalangan umat Katolik dan cukup berperanan dalam hal kian memperkokoh kesalehan serta memperdalam iman umat. Dilihat dari susunan doanya, doa Rosario termasuk doa renungan yang mengarah pada permenungan misteri iman yang pokok terutama sehubungan dengan peristiwa keselamatan seperti yang terjadi dalam diri Yesus dan Bunda Maria.
Isi doa Salam Maria
Doa Rosario adalah doa yang disusun sedemikian sehingga menjadi satu rangkaian doa yang utuh. Di dalamnya terdapat doa yang selalu diulang-ulang terutama doa “Salam Maria”. Karena ada doa yang selalu diulang-ulang ini, maka bisa saja orang “terjatuh” pada sekadar mengucapkannya begitu saja secara cepat agar lekas selesai. Isi doa yang terkandung di dalam untaian doa Rosario itu dengan demikian kurang direnungkan secara serius. Kalau demikian yang terjadi, maka jelaslah bahwa doa Rosario akan kehilangan makna sejatinya lantaran isi yang terkandung di dalamnya kurang diresapkan.
Bisa saja terjadi bahwa karena orang kurang memahami makna atau isi yang terkandung di dalamnya terutama doa “Salam Maria” maka muncullah kecenderungan untuk mengucapkannya begitu saja secara cepat ibarat “mantra” yang diucapkan tanpa persiapan. Karena itulah, memahami makna atau isi doa “Salam Maria” menjadi penting agar orang dapat mendoakannya secara serius dan dapat menikmati kekayaan maknanya sehingga bisa berbuah dalam keutamaan-keutamaan keseharian hidup.
Adapun makna doa “Salam Maria” adalah sebagai berikut. Doa ini terdiri atas tiga bagian atau rumusan, yaitu:
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, ...” (Luk 1:28)
“...terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus, ...” (Luk 1:42)
“...doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.” (Kata-kata atau rumusan tambahan dari Gereja)
Penjelasan dari ketiga rumusan tersebut adalah sebagai berikut.
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, ...” (Luk 1:28)
Kata-kata ini berasal dari Malaikat Gabriel. Malaikat Gabriel adalah Malaikat Tuhan yang bertugas sebagai penyambung lidah Allah. Karena itu, ketika mendoakan atau mengucapkan kata-kata ini berarti kita mengucapkan kata-kata Tuhan sendiri yang telah disampaikan kepada kita melalui “mulut” Malaikat Gabriel. Karena kata-kata itu berasal dari Allah, maka kata-kata itu adalah suci dan benar serta dapat membawa damai ketika secara sungguh-sungguh kita ucapkan.atau doakan.
Kata “penuh rahmat” secara khusus berarti bahwa Rahmat Allah terdapat di dalam diri Maria secara penuh, tidak sebagian-sebagian. Karena itu, Maria layak disebut sebagai “bejana” yang menampung semua rahmat.
Kata “Tuhan sertamu” memiliki arti bahwa Tuhan menyertai dan masuk di dalam hati. Kuasa Tuhan ada di dalam hati. Tidak hanya di dalam hati Maria, tetapi juga hati manusia seluruhnya. Karena, di dalam peristiwa “kabar gembira” ini, Maria tampil sebagai wakil umat manusia. Karena itulah, dengan kata-kata yang diucapkan kepada Maria ini, Tuhan mau memperkenalkan diri sebagai yang sungguh dekat di dalam hati manusia dan menyertai hidup kita. Tuhan di dalam kita dan kita di dalam Tuhan.
“ ... terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus, ...”
(Luk 1:42)
Kata-kata ini tampak jelas bukan berasal dari imajinasi Elizabet sendiri melainkan menandakan adanya campur tangan Tuhan. Karena, di dalam kata-kata ini terkandung nubuat. Nubuat akan kelahiran “buah rahim” yang adalah Yesus, Putera Allah sendiri. Dengan mengucapkan kata-kata itu, tampaknya Elizabet telah dianugerahi sabda pengetahuan dari Tuhan. Pengetahuan bahwa Maria akan menjadi ibu Tuhan.
Maria dikatakan terpuji dan terberkati di antara wanita. Dikatakan demikian karena Maria telah mendapat karunia Roh dari Tuhan dan Tuhan menyertai dia. Lebih dari itu, Mari juga telah dipilih untuk menjadi “ibu Tuhan”, mengandung dan akan melahirkan Anak Allah. Kenyataan bahwa Roh Tuhan menyertai dan berkuasa atas Maria membawa konsekuensi kekudusan dalam diri Yesus dan serentak juga membawa kekudusan bagi diri Maria sendiri. Sehingga, Maria dapat tampil sebagai “yang tidak bernoda”.
Kata-kata pujian, “...terpujilah buah rahimmu...” tidak bisa tidak adalah kata-kata pujian yang ditujukan kepada Yesus. Yesus adalah Tuhan, Allah Putera. Maka, pujian yang diarahkan kepada Allah Putera dengan sendirinya tertuju pula kepada Allah Tritunggal. Rumusan pujian yang seperti ini dengan demikian telah menjadikan doa Salam Maria menjadi doa yang benar karena di dalamnya ada keterarahan kepada Tuhan sendiri.
“...doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.”
Kata-kata ini adalah rumusan tambahan yang berasal dari Gereja khususnya dari St. Dominikus. Sebuah kebenaran yang dapat kita tangkap dari rumusan tambahan ini adalah bahwa di dalam kata-kata itu terkandung sebuah pengakuan terhadap Bunda Maria yang berperan sebagai pendoa. Dengan mengatakan, “Doakanlah kami!” maka kita membuka diri dan menyerahkan diri kita kepada Bunda Maria yang kita yakini dan percayai tahu akan apa yang kita perlukan di dalam hidup ini. Terserah kepada Bunda Maria mau berdoa apa untuk kita, yang jelas kita menyerahkan sepenuhnya kepada dia yang mengenal dan lebih tahu akan keperluan kita.
Demikianlah beberapa hal mendasar yang penting untuk diketahui dan dihayati agar seorang beriman dapat melaksanakan aktifitas devosional kepada Bunda Maria secara benar. Jelaslah bahwa uraian yang telah tersaji di atas masih jauh dari lengkap. Dengan kata lain, apa yang sudah diuraikan di atas adalah uraian sederhana dan baru sebagian kecil saja dari banyak kebenaran penting di seputar pribadi Bunda Maria yang dapat diungkap, digali, dan diperdalam. Jelas bukanlah pada tempatnya untuk menguraikan banyak hal di dalam paper sekecil ini.
Namun demikian, penulis berharap bahwa apa yang sudah tersaji secara singkat dan sederhana ini dapat bermanfaat. Gambaran penulis, bahan ini dapat dipergunakan sebagai bahan katekese untuk umat yang diberikan pada kesempatan doa lingkungan, khususnya doa-doa lingkungan yang diadakan dalam bulan Maria atau bulan Rosario. Dalam satu bulan biasanya diadakan 4x pertemuan. Uraian yang singkat dalam paper ini kiranya dapat menjadi bahan yang diberikan di dalam empat pertemuan tersebut.
Dalam rangka katekese pula, usaha yang lebih jauh untuk kian menggali dan memperdalam lagi pemahaman-pemahaman penting di seputar kegiatan devosi kepada Bunda Maria niscaya diandaikan bagi seorang tenaga pastoral yang baik. Sebab, bagi umat, pemahaman yang semakin mendalam tentang pengetahuan iman jelas dapat kian mendukung penghayatannya dalam keseharian hidup secara benar pula. Lebih jauh dari itu, kehidupan iman yang lebih dewasa dan matang pelan-pelan dapat diwujudkan.
Daftar Pustaka
1. Kristiyanto, Eddy, “Maria dalam Gereja”, Kanisius, Yogyakarta, 1987.
2. Harun, Martin, “Maria dalam Perjanjian Baru”, Obor, Jakarta, 1998.
3. “Maria Menolong dalam Panggilan”, Bahan Rekoleksi Bulanan dengan Rm. Kristo Bala, SVD, tanggal 1-2 September 2004.
Di dalam kalender liturgi Gereja, terdapat dua bulan yang secara khusus diperuntukkan memberi penghormatan secara khusus kepada Bunda Maria, yaitu bulan Mei dan bulan Oktober. Aktivitas devosi kepada Bunda Maria biasanya cukup marak dilaksanakan pada bulan-bulan ini, baik doa rosario maupun kegiatan ziarah. Tentulah selalu ada umat beriman saleh yang dengan rajin dan tekun tetap melaksanakan aktivitas devosional kepada Bunda Maria pada waktu-waktu lain di luar bulan Mei dan Oktober.
Bukan tidak mungkin akrivitas devosional kepada Bunda Maria yang sangat marak di dalam Gereja Katolik itu bisa mengarah kepada penghayatan yang kurang tepat atau bahkan keliru lantaran kurangnya pemahaman dan pengetahuan yang memadahi tentang hal-hal dasar yang harus diketahui dan dipahami sebagai seorang beriman Katolik yang mau mengungkapkan hormat dan cintanya kepada Bundanya yang tercinta, Maria.
Karena itulah tulisan kecil dan sederhana ini mau mencoba menyajikan uraian singkat tentang beberapa hal mendasar yang kiranya amat penting bahkan harus diketahui agar seseorang dapat melaksanakan olah kesalehannya berupa aktivitas devosional kepada Bunda Maria secara benar. Harapannya, dengan pemahaman yang benar tentang beberapa persoalan yang mendasar ini, seseorang sungguh diantar untuk mencapai penghayatan hidup beriman Katolik yang benar pula.
Beberapa pemahaman penting di seputar devosi kepada Bunda Maria
1. Maria “Bunda Pengantara”
Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara manusia dengan Allah. Namun, di dalam Gereja Katolik terdapat pula pemahaman tentang Bunda Maria sebagai pengantara. Maka, muncullah pemahaman bahwa seolah-olah ada dua pengantara, yaitu Yesus dan Maria. Bagaimana ini harus dijelaskan?
Satu tampilan peristiwa dalam Injil Lukas dapat kita lihat untuk lebih memahami tentang keperantaraan Maria, yaitu peristiwa kabar sukacita (Luk 1:26-38) dan peristiwa kalvari (Luk 23:33-43). Dalam peristiwa Kalvari, Yesus jelas tampil sebagai wakil seluruh umat manusia. Dia mempersembahkan korban demi manusia, menjadi penebus dunia. Kodrat pribadi Yesus sebagai Allah sekaligus manusialah yang memungkinkan peristiwa penebusan ini bisa terjadi. Sebagai yang benar-benar Allah sekaligus benar-benar manusia, Yesus adalah pengantara sempurna antara manusia dengan Allah dan Allah dengan manusia.
Dalam peristiwa kabar sukacita (Luk 1:26-38) ditampilkan Allah yang melalui Malaikat Gabriel memilih Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus yang adalah Putra Allah yang akan menjadi pengantara antara manusia dengan Allah dan Allah dengan manusia. Dalam peristiwa ini Maria tampil sebagai “wakil” umat manusia seluruhnya tanpa kecuali. Sebagai wakil manusia, Maria dengan bebas menyatakan kesepakatannya untuk menjadi “sarana” kehadiran Yesus, Putera Allah ke dunia. Berangkat dari peristiwa ini, Maria berada pada posisi istimewa, yaitu menjadi wakil umat manusia berhadapan dengan rencana keselamatan Allah. Di dalam konteks rencana Allah ini Maria memiliki peran yang “aktif”. Keaktifan peran Maria ditunjukkan dengan jawaban “ya” atas rencana Allah. Jawaban “ya” inilah yang kemudian melahirkan Yesus ke dunia.
Kerelaan Allah untuk memilih Maria sebagai bunda yang melahirkan Yesus dan kesediaan Maria atas pilihan Allah yang diwujudkan dengan jawaban “ya” serta hubungan yang begitu erat dan mesra antara Maria dan Puteranya Yesus inilah yang dapat menempatkan Maria pada posisi yang istimewa, yaitu sebagai “Bunda Pengantara”. Namun, harus ditegaskan bahwa keperantaraan Maria tidaklah sama dengan keperantaraan Kristus sebagai salah satu dari pribadi Allah Tritunggal. Keperantaraan Maria itu tidak pula mengurangi maupun menyumbang sedikit pun untuk keperantaraan Kristus. Keperantaraan Maria adalah keperantaraan yang sejajar dengan keperantaraan para kudus yang lain yang sudah berada di sorga, yaitu dalam arti sebagai “pembantu”, pembicara, penolong, pendoa kaum beriman. Namun demikian Konsili Vatikan II dalam dokumennya Lumen Gentium art. 53 secara khusus menegaskan bahwa karena rahmat istimewa, Bunda Maria adalah manusia yang paling unggul di antara semua manusia atau makhluk lainnya. Karena itulah, dibandingkan dengan orang kudus lain keperantaraan Maria adalah yang paling unggul.
2. Maria “Bunda Gereja”
Teks Yoh 19:26-27 menceriterakan Maria yang berdiri di bawah salib bersama dengan murid yang dikasihi-Nya. Yesus berkata kepada ibu-Nya, “Inilah anakmu”, lalu kepada murid itu, “Inilah ibumu”. Tampaklah dalam peristiwa ini bahwa di tiang penyaliban, Yesus menyatakan keibuan rohani Maria bagi semua orang beriman. Hal ini berarti, Maria mempunyai peranan khusus dalam karya penyelamatan. Murid yang dikasihi Yesus, anggota Gereja, dipercayakan kepada ibu-Nya, Maria. Murid yang dikasihi Yesus adalah lambang Gereja. Dengan demikian Maria adalah ibu orang beriman, ibu Gereja.
Berangkat dari Kis 1:14, setelah peristiwa kenaikan Yesus ke surga, peranan Maria sebagai bunda orang beriman tampak ketika Maria bersama, senasib, bersatu dalam komunitas atau paguyuban rasuli, berada di pihak murid-murid Yesus, yakni Gereja. Ini terjadi sebelum peristiwa Pentekosta. Pada saat penantian ini (penantian kedatangan Roh Kudus), Bunda Maria bersama para murid berdoa bersama. Dalam komunitas rasuli inilah kebundaan Maria tampil. Sebagaimana peran kebundaannya dahulu ketika “mengasuh” Yesus, kini dia mendampingi para muridnya sekaligus tampil menjadi suri teladan bagi para murid Yesus. Karena itulah, pada saat ini, kita sebagai anggota Gereja, dapat menghayati kebundaan Maria sebagai “pengikat” kita di dalam satu keluarga Allah yang sedang berjuang di dunia, berziarah menuju kepada penggenapan janji Kristus yaitu kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman.
3. Sekilas tentang sejarah doa rosario dan makna doa Salam Maria
Sekilas tentang sejarah doa rosario
Bulan Oktober adalah bulan yang secara khusus ditetapkan oleh Gereja Katolik sebagai bulan Rosario. Doa Rosario sendiri pada awalnya mulai populer pada zaman St. Dominikus yang wafat pada tahun 1221. Kemudian, sebuah peristiwa penting terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571, yaitu peristiwa kemenangan orang-orang Kristen dalam perang melawan tentara Islam Turki. Kemenangan diraih berkat doa Rosario sehingga Paus Pius V waktu itu menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta “Bunda Kemenangan” guna mengenang peristiwa kemenangan itu. Baru kemudian tahun 1960 Paus Pius X menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari pesta yang diberi nama “Pesta Bunda Maria Ratu Rosario”
Sampai pada saat ini doa Rosario telah menjadi salah satu bentuk doa yang amat populer di kalangan umat Katolik dan cukup berperanan dalam hal kian memperkokoh kesalehan serta memperdalam iman umat. Dilihat dari susunan doanya, doa Rosario termasuk doa renungan yang mengarah pada permenungan misteri iman yang pokok terutama sehubungan dengan peristiwa keselamatan seperti yang terjadi dalam diri Yesus dan Bunda Maria.
Isi doa Salam Maria
Doa Rosario adalah doa yang disusun sedemikian sehingga menjadi satu rangkaian doa yang utuh. Di dalamnya terdapat doa yang selalu diulang-ulang terutama doa “Salam Maria”. Karena ada doa yang selalu diulang-ulang ini, maka bisa saja orang “terjatuh” pada sekadar mengucapkannya begitu saja secara cepat agar lekas selesai. Isi doa yang terkandung di dalam untaian doa Rosario itu dengan demikian kurang direnungkan secara serius. Kalau demikian yang terjadi, maka jelaslah bahwa doa Rosario akan kehilangan makna sejatinya lantaran isi yang terkandung di dalamnya kurang diresapkan.
Bisa saja terjadi bahwa karena orang kurang memahami makna atau isi yang terkandung di dalamnya terutama doa “Salam Maria” maka muncullah kecenderungan untuk mengucapkannya begitu saja secara cepat ibarat “mantra” yang diucapkan tanpa persiapan. Karena itulah, memahami makna atau isi doa “Salam Maria” menjadi penting agar orang dapat mendoakannya secara serius dan dapat menikmati kekayaan maknanya sehingga bisa berbuah dalam keutamaan-keutamaan keseharian hidup.
Adapun makna doa “Salam Maria” adalah sebagai berikut. Doa ini terdiri atas tiga bagian atau rumusan, yaitu:
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, ...” (Luk 1:28)
“...terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus, ...” (Luk 1:42)
“...doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.” (Kata-kata atau rumusan tambahan dari Gereja)
Penjelasan dari ketiga rumusan tersebut adalah sebagai berikut.
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, ...” (Luk 1:28)
Kata-kata ini berasal dari Malaikat Gabriel. Malaikat Gabriel adalah Malaikat Tuhan yang bertugas sebagai penyambung lidah Allah. Karena itu, ketika mendoakan atau mengucapkan kata-kata ini berarti kita mengucapkan kata-kata Tuhan sendiri yang telah disampaikan kepada kita melalui “mulut” Malaikat Gabriel. Karena kata-kata itu berasal dari Allah, maka kata-kata itu adalah suci dan benar serta dapat membawa damai ketika secara sungguh-sungguh kita ucapkan.atau doakan.
Kata “penuh rahmat” secara khusus berarti bahwa Rahmat Allah terdapat di dalam diri Maria secara penuh, tidak sebagian-sebagian. Karena itu, Maria layak disebut sebagai “bejana” yang menampung semua rahmat.
Kata “Tuhan sertamu” memiliki arti bahwa Tuhan menyertai dan masuk di dalam hati. Kuasa Tuhan ada di dalam hati. Tidak hanya di dalam hati Maria, tetapi juga hati manusia seluruhnya. Karena, di dalam peristiwa “kabar gembira” ini, Maria tampil sebagai wakil umat manusia. Karena itulah, dengan kata-kata yang diucapkan kepada Maria ini, Tuhan mau memperkenalkan diri sebagai yang sungguh dekat di dalam hati manusia dan menyertai hidup kita. Tuhan di dalam kita dan kita di dalam Tuhan.
“ ... terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus, ...”
(Luk 1:42)
Kata-kata ini tampak jelas bukan berasal dari imajinasi Elizabet sendiri melainkan menandakan adanya campur tangan Tuhan. Karena, di dalam kata-kata ini terkandung nubuat. Nubuat akan kelahiran “buah rahim” yang adalah Yesus, Putera Allah sendiri. Dengan mengucapkan kata-kata itu, tampaknya Elizabet telah dianugerahi sabda pengetahuan dari Tuhan. Pengetahuan bahwa Maria akan menjadi ibu Tuhan.
Maria dikatakan terpuji dan terberkati di antara wanita. Dikatakan demikian karena Maria telah mendapat karunia Roh dari Tuhan dan Tuhan menyertai dia. Lebih dari itu, Mari juga telah dipilih untuk menjadi “ibu Tuhan”, mengandung dan akan melahirkan Anak Allah. Kenyataan bahwa Roh Tuhan menyertai dan berkuasa atas Maria membawa konsekuensi kekudusan dalam diri Yesus dan serentak juga membawa kekudusan bagi diri Maria sendiri. Sehingga, Maria dapat tampil sebagai “yang tidak bernoda”.
Kata-kata pujian, “...terpujilah buah rahimmu...” tidak bisa tidak adalah kata-kata pujian yang ditujukan kepada Yesus. Yesus adalah Tuhan, Allah Putera. Maka, pujian yang diarahkan kepada Allah Putera dengan sendirinya tertuju pula kepada Allah Tritunggal. Rumusan pujian yang seperti ini dengan demikian telah menjadikan doa Salam Maria menjadi doa yang benar karena di dalamnya ada keterarahan kepada Tuhan sendiri.
“...doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.”
Kata-kata ini adalah rumusan tambahan yang berasal dari Gereja khususnya dari St. Dominikus. Sebuah kebenaran yang dapat kita tangkap dari rumusan tambahan ini adalah bahwa di dalam kata-kata itu terkandung sebuah pengakuan terhadap Bunda Maria yang berperan sebagai pendoa. Dengan mengatakan, “Doakanlah kami!” maka kita membuka diri dan menyerahkan diri kita kepada Bunda Maria yang kita yakini dan percayai tahu akan apa yang kita perlukan di dalam hidup ini. Terserah kepada Bunda Maria mau berdoa apa untuk kita, yang jelas kita menyerahkan sepenuhnya kepada dia yang mengenal dan lebih tahu akan keperluan kita.
Demikianlah beberapa hal mendasar yang penting untuk diketahui dan dihayati agar seorang beriman dapat melaksanakan aktifitas devosional kepada Bunda Maria secara benar. Jelaslah bahwa uraian yang telah tersaji di atas masih jauh dari lengkap. Dengan kata lain, apa yang sudah diuraikan di atas adalah uraian sederhana dan baru sebagian kecil saja dari banyak kebenaran penting di seputar pribadi Bunda Maria yang dapat diungkap, digali, dan diperdalam. Jelas bukanlah pada tempatnya untuk menguraikan banyak hal di dalam paper sekecil ini.
Namun demikian, penulis berharap bahwa apa yang sudah tersaji secara singkat dan sederhana ini dapat bermanfaat. Gambaran penulis, bahan ini dapat dipergunakan sebagai bahan katekese untuk umat yang diberikan pada kesempatan doa lingkungan, khususnya doa-doa lingkungan yang diadakan dalam bulan Maria atau bulan Rosario. Dalam satu bulan biasanya diadakan 4x pertemuan. Uraian yang singkat dalam paper ini kiranya dapat menjadi bahan yang diberikan di dalam empat pertemuan tersebut.
Dalam rangka katekese pula, usaha yang lebih jauh untuk kian menggali dan memperdalam lagi pemahaman-pemahaman penting di seputar kegiatan devosi kepada Bunda Maria niscaya diandaikan bagi seorang tenaga pastoral yang baik. Sebab, bagi umat, pemahaman yang semakin mendalam tentang pengetahuan iman jelas dapat kian mendukung penghayatannya dalam keseharian hidup secara benar pula. Lebih jauh dari itu, kehidupan iman yang lebih dewasa dan matang pelan-pelan dapat diwujudkan.
Daftar Pustaka
1. Kristiyanto, Eddy, “Maria dalam Gereja”, Kanisius, Yogyakarta, 1987.
2. Harun, Martin, “Maria dalam Perjanjian Baru”, Obor, Jakarta, 1998.
3. “Maria Menolong dalam Panggilan”, Bahan Rekoleksi Bulanan dengan Rm. Kristo Bala, SVD, tanggal 1-2 September 2004.
Subscribe to:
Posts (Atom)


