Faith - Hope - Love

06 May 2009

Pemahaman Dasar Devosi Bunda Maria

Devosi kepada Bunda Maria adalah salah satu dari aneka macam devosi yang muncul di dalam Gereja Katolik. Devosi kepada Bunda Maria telah menjadi kekayaan tradisi Gereja yang cukup memiliki peran dalam hal menghidupkan olah kesalehan dan menggairahkan kehidupan beriman umat. Ada beberapa bentuk ungkapan devosi kepada Bunda Maria. Salah satu bentuk yang boleh dikatakan paling populer adalah doa rosario.
Di dalam kalender liturgi Gereja, terdapat dua bulan yang secara khusus diperuntukkan memberi penghormatan secara khusus kepada Bunda Maria, yaitu bulan Mei dan bulan Oktober. Aktivitas devosi kepada Bunda Maria biasanya cukup marak dilaksanakan pada bulan-bulan ini, baik doa rosario maupun kegiatan ziarah. Tentulah selalu ada umat beriman saleh yang dengan rajin dan tekun tetap melaksanakan aktivitas devosional kepada Bunda Maria pada waktu-waktu lain di luar bulan Mei dan Oktober.
Bukan tidak mungkin akrivitas devosional kepada Bunda Maria yang sangat marak di dalam Gereja Katolik itu bisa mengarah kepada penghayatan yang kurang tepat atau bahkan keliru lantaran kurangnya pemahaman dan pengetahuan yang memadahi tentang hal-hal dasar yang harus diketahui dan dipahami sebagai seorang beriman Katolik yang mau mengungkapkan hormat dan cintanya kepada Bundanya yang tercinta, Maria.
Karena itulah tulisan kecil dan sederhana ini mau mencoba menyajikan uraian singkat tentang beberapa hal mendasar yang kiranya amat penting bahkan harus diketahui agar seseorang dapat melaksanakan olah kesalehannya berupa aktivitas devosional kepada Bunda Maria secara benar. Harapannya, dengan pemahaman yang benar tentang beberapa persoalan yang mendasar ini, seseorang sungguh diantar untuk mencapai penghayatan hidup beriman Katolik yang benar pula.

Beberapa pemahaman penting di seputar devosi kepada Bunda Maria
1. Maria “Bunda Pengantara”
Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara manusia dengan Allah. Namun, di dalam Gereja Katolik terdapat pula pemahaman tentang Bunda Maria sebagai pengantara. Maka, muncullah pemahaman bahwa seolah-olah ada dua pengantara, yaitu Yesus dan Maria. Bagaimana ini harus dijelaskan?
Satu tampilan peristiwa dalam Injil Lukas dapat kita lihat untuk lebih memahami tentang keperantaraan Maria, yaitu peristiwa kabar sukacita (Luk 1:26-38) dan peristiwa kalvari (Luk 23:33-43). Dalam peristiwa Kalvari, Yesus jelas tampil sebagai wakil seluruh umat manusia. Dia mempersembahkan korban demi manusia, menjadi penebus dunia. Kodrat pribadi Yesus sebagai Allah sekaligus manusialah yang memungkinkan peristiwa penebusan ini bisa terjadi. Sebagai yang benar-benar Allah sekaligus benar-benar manusia, Yesus adalah pengantara sempurna antara manusia dengan Allah dan Allah dengan manusia.
Dalam peristiwa kabar sukacita (Luk 1:26-38) ditampilkan Allah yang melalui Malaikat Gabriel memilih Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus yang adalah Putra Allah yang akan menjadi pengantara antara manusia dengan Allah dan Allah dengan manusia. Dalam peristiwa ini Maria tampil sebagai “wakil” umat manusia seluruhnya tanpa kecuali. Sebagai wakil manusia, Maria dengan bebas menyatakan kesepakatannya untuk menjadi “sarana” kehadiran Yesus, Putera Allah ke dunia. Berangkat dari peristiwa ini, Maria berada pada posisi istimewa, yaitu menjadi wakil umat manusia berhadapan dengan rencana keselamatan Allah. Di dalam konteks rencana Allah ini Maria memiliki peran yang “aktif”. Keaktifan peran Maria ditunjukkan dengan jawaban “ya” atas rencana Allah. Jawaban “ya” inilah yang kemudian melahirkan Yesus ke dunia.
Kerelaan Allah untuk memilih Maria sebagai bunda yang melahirkan Yesus dan kesediaan Maria atas pilihan Allah yang diwujudkan dengan jawaban “ya” serta hubungan yang begitu erat dan mesra antara Maria dan Puteranya Yesus inilah yang dapat menempatkan Maria pada posisi yang istimewa, yaitu sebagai “Bunda Pengantara”. Namun, harus ditegaskan bahwa keperantaraan Maria tidaklah sama dengan keperantaraan Kristus sebagai salah satu dari pribadi Allah Tritunggal. Keperantaraan Maria itu tidak pula mengurangi maupun menyumbang sedikit pun untuk keperantaraan Kristus. Keperantaraan Maria adalah keperantaraan yang sejajar dengan keperantaraan para kudus yang lain yang sudah berada di sorga, yaitu dalam arti sebagai “pembantu”, pembicara, penolong, pendoa kaum beriman. Namun demikian Konsili Vatikan II dalam dokumennya Lumen Gentium art. 53 secara khusus menegaskan bahwa karena rahmat istimewa, Bunda Maria adalah manusia yang paling unggul di antara semua manusia atau makhluk lainnya. Karena itulah, dibandingkan dengan orang kudus lain keperantaraan Maria adalah yang paling unggul.

2. Maria “Bunda Gereja”
Teks Yoh 19:26-27 menceriterakan Maria yang berdiri di bawah salib bersama dengan murid yang dikasihi-Nya. Yesus berkata kepada ibu-Nya, “Inilah anakmu”, lalu kepada murid itu, “Inilah ibumu”. Tampaklah dalam peristiwa ini bahwa di tiang penyaliban, Yesus menyatakan keibuan rohani Maria bagi semua orang beriman. Hal ini berarti, Maria mempunyai peranan khusus dalam karya penyelamatan. Murid yang dikasihi Yesus, anggota Gereja, dipercayakan kepada ibu-Nya, Maria. Murid yang dikasihi Yesus adalah lambang Gereja. Dengan demikian Maria adalah ibu orang beriman, ibu Gereja.
Berangkat dari Kis 1:14, setelah peristiwa kenaikan Yesus ke surga, peranan Maria sebagai bunda orang beriman tampak ketika Maria bersama, senasib, bersatu dalam komunitas atau paguyuban rasuli, berada di pihak murid-murid Yesus, yakni Gereja. Ini terjadi sebelum peristiwa Pentekosta. Pada saat penantian ini (penantian kedatangan Roh Kudus), Bunda Maria bersama para murid berdoa bersama. Dalam komunitas rasuli inilah kebundaan Maria tampil. Sebagaimana peran kebundaannya dahulu ketika “mengasuh” Yesus, kini dia mendampingi para muridnya sekaligus tampil menjadi suri teladan bagi para murid Yesus. Karena itulah, pada saat ini, kita sebagai anggota Gereja, dapat menghayati kebundaan Maria sebagai “pengikat” kita di dalam satu keluarga Allah yang sedang berjuang di dunia, berziarah menuju kepada penggenapan janji Kristus yaitu kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman.

3. Sekilas tentang sejarah doa rosario dan makna doa Salam Maria
Sekilas tentang sejarah doa rosario
Bulan Oktober adalah bulan yang secara khusus ditetapkan oleh Gereja Katolik sebagai bulan Rosario. Doa Rosario sendiri pada awalnya mulai populer pada zaman St. Dominikus yang wafat pada tahun 1221. Kemudian, sebuah peristiwa penting terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571, yaitu peristiwa kemenangan orang-orang Kristen dalam perang melawan tentara Islam Turki. Kemenangan diraih berkat doa Rosario sehingga Paus Pius V waktu itu menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta “Bunda Kemenangan” guna mengenang peristiwa kemenangan itu. Baru kemudian tahun 1960 Paus Pius X menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari pesta yang diberi nama “Pesta Bunda Maria Ratu Rosario”
Sampai pada saat ini doa Rosario telah menjadi salah satu bentuk doa yang amat populer di kalangan umat Katolik dan cukup berperanan dalam hal kian memperkokoh kesalehan serta memperdalam iman umat. Dilihat dari susunan doanya, doa Rosario termasuk doa renungan yang mengarah pada permenungan misteri iman yang pokok terutama sehubungan dengan peristiwa keselamatan seperti yang terjadi dalam diri Yesus dan Bunda Maria.

Isi doa Salam Maria
Doa Rosario adalah doa yang disusun sedemikian sehingga menjadi satu rangkaian doa yang utuh. Di dalamnya terdapat doa yang selalu diulang-ulang terutama doa “Salam Maria”. Karena ada doa yang selalu diulang-ulang ini, maka bisa saja orang “terjatuh” pada sekadar mengucapkannya begitu saja secara cepat agar lekas selesai. Isi doa yang terkandung di dalam untaian doa Rosario itu dengan demikian kurang direnungkan secara serius. Kalau demikian yang terjadi, maka jelaslah bahwa doa Rosario akan kehilangan makna sejatinya lantaran isi yang terkandung di dalamnya kurang diresapkan.
Bisa saja terjadi bahwa karena orang kurang memahami makna atau isi yang terkandung di dalamnya terutama doa “Salam Maria” maka muncullah kecenderungan untuk mengucapkannya begitu saja secara cepat ibarat “mantra” yang diucapkan tanpa persiapan. Karena itulah, memahami makna atau isi doa “Salam Maria” menjadi penting agar orang dapat mendoakannya secara serius dan dapat menikmati kekayaan maknanya sehingga bisa berbuah dalam keutamaan-keutamaan keseharian hidup.
Adapun makna doa “Salam Maria” adalah sebagai berikut. Doa ini terdiri atas tiga bagian atau rumusan, yaitu:
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, ...” (Luk 1:28)
“...terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus, ...” (Luk 1:42)
“...doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.” (Kata-kata atau rumusan tambahan dari Gereja)
Penjelasan dari ketiga rumusan tersebut adalah sebagai berikut.

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, ...” (Luk 1:28)
Kata-kata ini berasal dari Malaikat Gabriel. Malaikat Gabriel adalah Malaikat Tuhan yang bertugas sebagai penyambung lidah Allah. Karena itu, ketika mendoakan atau mengucapkan kata-kata ini berarti kita mengucapkan kata-kata Tuhan sendiri yang telah disampaikan kepada kita melalui “mulut” Malaikat Gabriel. Karena kata-kata itu berasal dari Allah, maka kata-kata itu adalah suci dan benar serta dapat membawa damai ketika secara sungguh-sungguh kita ucapkan.atau doakan.
Kata “penuh rahmat” secara khusus berarti bahwa Rahmat Allah terdapat di dalam diri Maria secara penuh, tidak sebagian-sebagian. Karena itu, Maria layak disebut sebagai “bejana” yang menampung semua rahmat.
Kata “Tuhan sertamu” memiliki arti bahwa Tuhan menyertai dan masuk di dalam hati. Kuasa Tuhan ada di dalam hati. Tidak hanya di dalam hati Maria, tetapi juga hati manusia seluruhnya. Karena, di dalam peristiwa “kabar gembira” ini, Maria tampil sebagai wakil umat manusia. Karena itulah, dengan kata-kata yang diucapkan kepada Maria ini, Tuhan mau memperkenalkan diri sebagai yang sungguh dekat di dalam hati manusia dan menyertai hidup kita. Tuhan di dalam kita dan kita di dalam Tuhan.

“ ... terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus, ...”
(Luk 1:42)
Kata-kata ini tampak jelas bukan berasal dari imajinasi Elizabet sendiri melainkan menandakan adanya campur tangan Tuhan. Karena, di dalam kata-kata ini terkandung nubuat. Nubuat akan kelahiran “buah rahim” yang adalah Yesus, Putera Allah sendiri. Dengan mengucapkan kata-kata itu, tampaknya Elizabet telah dianugerahi sabda pengetahuan dari Tuhan. Pengetahuan bahwa Maria akan menjadi ibu Tuhan.
Maria dikatakan terpuji dan terberkati di antara wanita. Dikatakan demikian karena Maria telah mendapat karunia Roh dari Tuhan dan Tuhan menyertai dia. Lebih dari itu, Mari juga telah dipilih untuk menjadi “ibu Tuhan”, mengandung dan akan melahirkan Anak Allah. Kenyataan bahwa Roh Tuhan menyertai dan berkuasa atas Maria membawa konsekuensi kekudusan dalam diri Yesus dan serentak juga membawa kekudusan bagi diri Maria sendiri. Sehingga, Maria dapat tampil sebagai “yang tidak bernoda”.
Kata-kata pujian, “...terpujilah buah rahimmu...” tidak bisa tidak adalah kata-kata pujian yang ditujukan kepada Yesus. Yesus adalah Tuhan, Allah Putera. Maka, pujian yang diarahkan kepada Allah Putera dengan sendirinya tertuju pula kepada Allah Tritunggal. Rumusan pujian yang seperti ini dengan demikian telah menjadikan doa Salam Maria menjadi doa yang benar karena di dalamnya ada keterarahan kepada Tuhan sendiri.

“...doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.”
Kata-kata ini adalah rumusan tambahan yang berasal dari Gereja khususnya dari St. Dominikus. Sebuah kebenaran yang dapat kita tangkap dari rumusan tambahan ini adalah bahwa di dalam kata-kata itu terkandung sebuah pengakuan terhadap Bunda Maria yang berperan sebagai pendoa. Dengan mengatakan, “Doakanlah kami!” maka kita membuka diri dan menyerahkan diri kita kepada Bunda Maria yang kita yakini dan percayai tahu akan apa yang kita perlukan di dalam hidup ini. Terserah kepada Bunda Maria mau berdoa apa untuk kita, yang jelas kita menyerahkan sepenuhnya kepada dia yang mengenal dan lebih tahu akan keperluan kita.

Demikianlah beberapa hal mendasar yang penting untuk diketahui dan dihayati agar seorang beriman dapat melaksanakan aktifitas devosional kepada Bunda Maria secara benar. Jelaslah bahwa uraian yang telah tersaji di atas masih jauh dari lengkap. Dengan kata lain, apa yang sudah diuraikan di atas adalah uraian sederhana dan baru sebagian kecil saja dari banyak kebenaran penting di seputar pribadi Bunda Maria yang dapat diungkap, digali, dan diperdalam. Jelas bukanlah pada tempatnya untuk menguraikan banyak hal di dalam paper sekecil ini.
Namun demikian, penulis berharap bahwa apa yang sudah tersaji secara singkat dan sederhana ini dapat bermanfaat. Gambaran penulis, bahan ini dapat dipergunakan sebagai bahan katekese untuk umat yang diberikan pada kesempatan doa lingkungan, khususnya doa-doa lingkungan yang diadakan dalam bulan Maria atau bulan Rosario. Dalam satu bulan biasanya diadakan 4x pertemuan. Uraian yang singkat dalam paper ini kiranya dapat menjadi bahan yang diberikan di dalam empat pertemuan tersebut.
Dalam rangka katekese pula, usaha yang lebih jauh untuk kian menggali dan memperdalam lagi pemahaman-pemahaman penting di seputar kegiatan devosi kepada Bunda Maria niscaya diandaikan bagi seorang tenaga pastoral yang baik. Sebab, bagi umat, pemahaman yang semakin mendalam tentang pengetahuan iman jelas dapat kian mendukung penghayatannya dalam keseharian hidup secara benar pula. Lebih jauh dari itu, kehidupan iman yang lebih dewasa dan matang pelan-pelan dapat diwujudkan.



Daftar Pustaka
1. Kristiyanto, Eddy, “Maria dalam Gereja”, Kanisius, Yogyakarta, 1987.
2. Harun, Martin, “Maria dalam Perjanjian Baru”, Obor, Jakarta, 1998.
3. “Maria Menolong dalam Panggilan”, Bahan Rekoleksi Bulanan dengan Rm. Kristo Bala, SVD, tanggal 1-2 September 2004.

16 March 2009

Sifat-sifat Gereja

Gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil dan dihimpun oleh Allah sendiri, oleh karena itu disadari pula bahwa Gereja adalah suatu persekutuan yang khas. Mulai dari jaman yang langsung menyusul era rasul, Gereja diyakini mempunyai keempat sifat yaitu:
  • Gereja itu “satu” karena Roh Kudus yang mempersatukan para anggota jemaat satu sama lain, dan juga dengan kepala jemaat yang kelihatan, yakni uskup; lagi pula mempersatukan para uskup satu sama lain dengan pusatnya di Roma.
  • Gereja itu “kudus” karena berkat Roh Kudus yang menjiwaiNya, Gereja bersatu dengan Tuhan, satu-satunya yang dari diriNya sendiri kudus.
  • Gereja itu “katolik”, “menyeluruh”, “am” atau “umum” karena tersebar di seluruh dunia sehingga mencakup semua.
  • Gereja itu “apostolik” karena warganya dikatakan “anggota umat Allah” jika bersatu dengan pusat-pusat Gereja yang mengakui diri sebagai tahta para Rasul (apostoloi), seperti Keuskupan Yerusalem (Yakobus), Antiokhia (Petrus), Roma (Petrus), Konstantinopel (Andreas).
Keempat sifat itu memang kait mengait, tetapi tidak merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri dengan karya Roh Kudus di dalam dirinya. Gereja itu Ilahi sekaligus insane, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Gereja itu bersifat dinamis, tidak sekali jadi dan statis, oleh karena itu sifat-sifat Gereja tersebut harus selalu diperjuangkan.

A. Gereja Kristus yang Satu

1. Arti Gereja yang Satu
Gereja yang satu: Gereja yang tampak sebagai perwujudan kehendak tunggal Yesus Kristus untuk dalam Roh Kudus tetap hadir kini di tengah manusia untuk menyelamatkan (LG 8)
Kesatuan Gereja pertama-tama dinyatakan dalam kesatuan iman (lih. Ef 4:3-6) yang mungkin dirumuskan dan diungkapkan secara berbeda-beda. Kessatuan juga dalam satu Injil, satu babtisan, dan satu jabatan yang dikaruniakan kepda Petrus dan kedua belas rasul. Kesatuan yang hakiki dan konkret diungkapkan oleh Paulus dalam model “tubuh”: Tubuh itu dibentuk dengan babtis dan diaktualisasikan dengan Prayaan Pemecahan Roti (1Kor 10:17).

Kesatuan tidak sama dengan keseragaman sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, baik dalam Gereja Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis, sebab kesatuan Gereja bukanlah semacam kekompakan organisasi atau kerukunan social. Yang utama bukan soal struktur organisasi yang lebih bersifat lahiriah, tetapi Injil Kristus yang diwartakan, dirayakan, dan dilaksanakan di dalam hidup sehari-hari.
Kristus memang mengangkat Petrus menjadi katua para rasul, supaya kolegialitas para rasul tetap satu dan tidak terbagi. Di dalam diri Petrus, Kristus menetapkan asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap kelihatan. Kesatuan ini tidak boleh dilihat pertama-tama secara universal. Tidak hanya Paus tetapi masing-masing uskup (pemimpin Gereja lokal) menjadi asas dan dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gereja.
Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus diperjuangkan dan dikembangkan serta disempurnakan terus menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen supaya mencari “persekutuan” dengan semua saudara seiman.

Singkat kata, Gereja yang satu itu terungkap dalam:
  • Kesatuan iman para anggotanya: kesatuan iman ini bukan kesatuan yang statis, tetapi kesatuan yang dinamis. Iman adala prinsip kesatuan batiniah Gereja.
  • Kesatuan dalam pimpinannya (hierarkis): hierarki mempunyai tugas untuk mempersatukan umat. Hierarki sering dilihat sebagai prinsip kesatuan lahiriah dari Gereja.
  • Kesatuan dalam kebaktian dan kehidupan sacramental: kebaktian dan sakramen-sakramen merupakan ekspresi simbolis kesatuan Gereja itu (Ef 4:3-6).

2. Memperjuangkan kesatuan Gereja

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan Gereja adalah kesatuan Allah yang Tunggal dalam tiga pribadi Bapa, Putra dan Roh Kudus” (UR 2). Tatapi, bagaimana kesatuan Ilahi itu diwujudkan secara insane, merupakan pertanyaan yang amat besar.
Kenyataannya, perpecahan dan pemisahan terjadi di dalam Gereja. Memang “Allah telah berkenan menghimpun orang-orng yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah dan membuat mereka menjadi satu Tubuh. Tetapi, bagaimana rencana Allah itu dilaksanakan oleh manusia Kristen? Perpecahan dan keretakan yang terjadi dalam Gereja tentu saja disebabkan oleh perbuatan manusia. Tata susunan sosial Gereja yang tampak melambangkan kesatuannya dengan Kristus (GS 44). Tetapi justru struktur sosial itu sekaligus membedakan (memisahkan) Gereja yang satu dengan yang lain. Umat Kristen kelihatan terpecah belah, justru karena struktur-struktur yang mau menyatakan kesatuan masing-masing kelompok itu. Meski demikian, hamper semua, kendati melalui aneka cara, mencita-citakan satu Gereja yang kelihatan, yang sungguh bersifat universal dan diutus ke seluruh dunia (UR1). Di satu pihak, diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi di pihak laindisadari bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan terus-menerus. Oleh karena itu, kesatuan iman mendorong umat Kristen supaya mencari “persekutuan” (communion) dengan semua saudara dalam iman, walaupun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari kesatuan sempurna.

Kesatuan Gereja pertama-tama harus diwujudkan dalam persekutuan konkret antara umat beriman yang hidup bersama dalam satu Negara atau daerah yang sama. Tuntutan zaman dan tantangan masyarakat merupakan dorongan kuat untuk menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama. Kesatuan Gereja terarah kepada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2 Tim 2:22)
Semangat kesatuan harus dipupuk dan diperjuangkan oleh setiap umat Kristen sendiri. Usaha yang dapat digalakkan untuk memperkuat persatuan “ke dalam” misalnya:
  • aktif dalam kehidupan Gereja,
  • setia dan taat pada persekutuan umat termasuk hierarki, dsb.

Sedangkan untuk menggalakkan persatuan “antar-Gereja” misalnya
  • lebih bersifat jujur dan terbuka satu sama lain, lebih melihatkan kesamaan daripada perbedaan,
  • mengadakan berbagai kegiatan sosial maupun peribadatan bersama, dsb.

Kesatuan Gereja tidak identik dengan uniformitas. Kesatuan Gereja di luar bidang esensial Injili memungkinkan keanekaragaman. Kesatuan harus lebih tampak dalam keanekaragaman.

B. Gereja Kristus yang Kudus

1. Arti Gereja yang Kudus

Gereja yang kudus berarti Gereja menjadi perwujudan kehendak Allah yang Mahakudus untuk sekarang juga mau bersatu dengan manusia dan mempersatukan manusia dalam kekudusanNya (bdk LG 8,39,41 dan 48).
Gereja yang kudus itu dipandang sebagai tanda Gereja yang benar. Bahkan sebelum rumusan Syahadat dikenal, orang telah menyebut Gereja sebagai ‘yang kudus”. Hal itu menentukan sikap terhadap para pendosa.
Secara obyektif sifat “kudus” berarti bahwa dalam Gereja adalah sarana keselamatan dan rahmat Tuhan di dunia serta merupakan tanda rahmat yang kudus, yang akan menang secara definitif pada akhir jaman.
Secara subyektif sifat “kudus” berarti bahwa Gereja tak akan kehabisan tanda dan orang kudus (bdk. Ibr 2:1), jadi menyangkut kekudusan subyeknya.

Ajaran ini dipahami bersama dengan ajaran iman bahwa para pendosa itupun anggota Gereja sehingga Gereja tak hanya ada pendosa tetapi adalah pendosa sejauh warganya dan pemukanya memang para pendosa yang masih berdosa dan akan berdosa. Itulah mengapa Gereja harus senantiasa menguduskan diri dengan memperbarui terus menerus (UR 4:6)
Lalu sifat “kudus” juga berarti bahwa Gereja yang dinodai oleh dosa itu tak akan sebegitu dirusak oleh dosa sampai Roh Kudus sama sekali meninggalkan Gereja atau tak kelihatan lagi (Mat 16:18). Sebab, Gereja dijamin Tuhan untuk tak sampai kehilangan rahmatNya kendati berdosa. Dan Roh Kudus itu sendirilah yang akan menjadi jiwa Gereja, sehingga kekudusan tidak tergantung pada anggota Gereja melainkan pada Roh Kudus yang menjadi sumber kekudusan Gereja. Itulah mengapa St. Paulus berkata “atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Kor 6:19).

Gereja itu kudus karena sumber dari mana ia berasal, karena tujuan ke mana ia diarahkan, dan karena unsure-unsur Ilahi yang otentik di dalamnya adalah kudus.
  • Sumber dari mana gereja berasal adalah kudus. Gereja didirikan oleh Kristus. Gereja menerima kekudusannya dari Kristus atas doa-doaNya (lih Yoh 17:11).
  • Tujuan dan arah Gereja dalah kudus. Gereja bertujuan untuk kemuliaan Allah dan penyelamatan umat manusia
  • Jiwa Gereja adalah kudus, sebab jiwa gereja adalah Roh Kudus sendiri
  • Unsur-unsur Ilahi yang otentik di dalam Gereja adalah kudus, seperti ajaran-ajaran dan sakramen-sakramen
  • Anggotanya adalah kudus, karena ditandai oleh Kristus melalui pembabtisan dan diserhakan kepada Kristus serta dipersatukan dalam iman, harapan, dan cinta yang kudus. Semua itu tidak berarti bahwa anggotanya selalu kudus (suci), namun ada juga yang mencapai kekudusan heroik. Semua dipanggil untuk kekudusan.

2. Memperjuangkan Kekudusan Gereja

Kekudusan Gereja dijelaskan dalam Konstitusi Lumen Gentium. Dikatakan bahwa “Kita mengimani bahwa Gereja tidak akan kehilangan kesuciannya, sebab, Kristus Putra Allah, yang bersama dengan Bapa dan Roh Kudus dipuji bahwa hanya Dialah kudus, mengasihi Gereja sebagai MempelaiNya” (LG 9). Gereja itu kudus karena kristus, Kepala gereja, membuatnya (anggotanya yang tetap berdosa) kudus.

Kekudusan juga terungkap dengan “aneka cara pada masing-masing orang”. Kekudusan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kesucian Gereja, yang berasal dari Kristus, yang mengikut sertakan Gereja dalam GerakanNya kepada Bapa ole Roh Kudus. Pada taraf misteri Ilahi, Gereja sudah suci: “Di dunia ini, Gereja sudah ditandai oleh kesucian yang sesungguhnya, meskipun belum sempurna” (LG 48). Ketidaksempurnaan ini menyangkut pelaksanaan insani, sama seperti kesatuannya

Dalam hal kekudusan yang pokok bukan bentuk pelaksanaannya, melainkan sikap dasarnya. Kudus diartikan sebagai “yang dikuduskan Tuhan”. Jadi, pertama-tama “kudus” itu menyangkut seluruh bidang sacral dan keagamaan. Yang suci bukan hanya tempat, waktu, barang yang dikuduskan Tuhan atau orang, tetapi yang kudus itu Tuhan sendiri. Semua yang lain, barang maupun orang yang disebut “kudus” karena termasuk lingkup kehidupan Tuhan

Kekudusan tidak datang dari Gereja, tetapi dari Allah yang mempersatukan Gereja dengan Kristus dalam Roh Kudus. Gereja disebut kudus karena Kristus sebagai kepala menguduskan anggotaNya. Jadi, kekudusan Gereja tidak terutama diartikan secara moral, tetapi secara teologial, meyangkut keberadaan dalam lingkup hidup Allah. Anggota Gereja adalah “orang kudus” yang dipanggil untuk hidup secara kudus di tengah-tengah dunia yang tidak mengindahkan Yang Mahakudus. Gereja adalah milik Allah (1Ptr 2:9) dan karenanya kehendak Ilahi harus ditaati di dalam Gereja dan oleh anggotanya.

Usaha yang dapat diperjuangkan menyangkut kekudusan anggota-anggota Gereja, misalnya:
  • saling memberi kesaksian untuk hidup sebagai putra-putri Allah
  • memperkenalkan anggota-anggota Gereja yang sudah hidup secara heroic untuk mencapai kekudusan
  • merenungkan dan mendalami Kitab Suci, khususnya ajaran dan hidup Yesus, yang merupakan pedoman dan arah hidup kita, dsb

C. Gereja yang Katolik

1. Arti dan Makna Gereja yang Katolik

Secara harafiah, kata “katolik” menunjukkan Gereja yang berkembang “di seluruh dunia”. Memang benar, Gereja tersebar ke mana-mana, namun tidak benar bahwa tidak ada tempat yang tidak ada Gereja. Dalam bahasa Yunani “katolik” berarti menyeluruh atau umum. Ignatius dari Antiokhia yang pertama kali menggunakan istilah ini, mengatakan bahwa “di mana ada uskup, di situ ada jemaat, seperti di mana ada Kristus, di situ ada Gereja “katolik”. Hai ini mau mengatakan bahwa dalam perayaan Ekaristi, yang dipimpin oleh uskup, hadir bukan hanya untuk jemaat setempat tatapi juga selurug Gereja. Jadi, gagasan pokok bukanlah bahwa Gereja telah tersebar ke seuruh dunia, melainkan bahwa dalam setiap jemaat setempat hadirlah Gereja seluruhnya.

Gereja selalu lengkap atau penuh, artinya tidak ada Gereja setengah-setengah atau sebagian. Gereja setempat (paroki, stasi) bukanlah “cabang” Gereja universal. Setiap Gereja setempat, bahkan setiap perkumpulan orang beriman yang sah, merupakan seluruh Gereja.
Selanjutnya, kata “katolik” dipakai untuk menyebut Gereja yang benar, Gereja universal yang dilawankan dengan sekte-sekte. Kata katolik tidak hanya mempunyai arti geografis (tersebar ke seluruh dunia), tetapi juga “menyeluruh”, dalam arti “lengkap” berkaitan dengan ajarannya, serta “terbuka” dalam arti tertuju kepada siapa saja.
Pada jaman Reformasi, kata “katolik” muncul lagi untuk membedakan dengan Gereja-gereja Protestan. Sejak itu, kata “katolik” secara khusus dimaksudkan umat Kristen yang mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja universal.

Dalam syahadat kata “katolik” masih mempunyai arti “universal” atau “umum”. Ternyata “universal” pun mempunyai dua arti, yang kuantitatif dan kualitatif:

Segi kuantitatif adalah faktor geografis, yang mana memperoleh warganya dari semua bangsa dan hidup di tengah segala bangsa. Gereja sebagai sakramen Roh Kudus mempunyai pengaruh dan daya pengudus yang tidak terbatas pada anggota Gereja saja, melainkan juga terarah pada dunia. Dengan sifat katolik ini dimaksudkan bahwa Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri untuk berkiprah ke seluruh dunia.
Segi kualitatif, karena ajarannya dapat diwartakan kepada segenap bangsa dan segala harta kekayaan bangsa-bangsa dapat ditampungnya sejauh itu baik dan luhur. Gereja terbuka, menampung dan memajukan terhadap segenap kemampuan, kekayaan, dan adat istiadat bangsa-bangsa. Tidak hanya menampung dan menerima saja melainkan juga menjiwai seluruh dunia. Yang hadir di mana-mana serta mengangkat segala kekayaan umat manusia sesungguhnya bukan Gereja melainkan Roh yang berkarya dalam dan melalui Gereja. Dalam hal ini tidak ada sesuatu pun yang tidak diterima Gereja.

Singkatnya, Gereja bersifat katolik karena terbuka bagi dunia, tidak sebatas pada tempat tertentu, bangsa dan kebudayaan tertentu, waktu dan golongan masyarakat tertentu. Kekatolikan Gereja tampak dalam:
  • rahmat dan keselamatan yang ditawarkan,
  • iman dan ajaran Gereja yang bersifat umum (dapat diterima dan dihayati siapapun)

2. Mewujudkan kekatolikan Gereja

Gereja bersifat universal, umum dan terbuka. Oleh sebab itu perlu diusahakan antara lain
Sikap terbuka dan menghormati kebudayaan, adat istiadat bahkan agama bangsa manapun.
Bekerja sama dengan pihak mana saja yang berkehndak baik dalam mewujudkan nilai-nilai yang luhur di dunia ini.
Selalu berusaha untuk memprakarsai dan memperjuangkan suatu dunia yang baik untuk umat manusia.

Untuk setiap orang kristiani diharapkan memiliki jiwa yang besar dan keterlibatan penuh dalam kehidupan masyarakat, sehingga dapat member kesaksian bahwa “katolik” artinya terbuka untuk apa saja yang baik dan siapa saja yang berkehendak baik.
Kekatolikan Gereja tidak berarti bahwa Gereja meleburkan diri kedalam dunia. Dalam keterbukaan itu, Gereja tetap mempertahankan identitas dirinya. Kekatolikan justru terbukti dengan kenyataan bahwa identitas Gereja tidak tergantung pada bentuk lahiriah tertentu, melainkan identitas yang bersifat dinamis, yang selalu di mana-mana dapat mempertahankan diri, bagaimanapun juga bentuk pelaksanaannya. Kekatolikan Gereja bersumber dari firman Tuhan sendiri (lih. Mrk 16:16; Luk 10:16)

D. Gereja yang Apostolik

1. Arti Gereja yang apostolik

Apostolik berasal dari kata Yunani, “ApostellO” (mengutus, menguasakan) yang berate utusan, suruhan, wakil resmi yang diserahi misi tertentu. Kata “apostolic” kemudian dipaki untuk menyebut para rasul. Gereja yang apostolik berarti bahwa Gereja yang berasal dari para rasul, dan tetao berpegang teguh pada kesaksian iman mereka. Kesadaran bahwa Gereja dibangun atas dasar para rasul dengan Kristus ebagai batu penjuru, sudah ada sejak jaman Gereja perdana.
Gereja katolik dalam hubungan dengan para rasul lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan perhatian pada hubungan historis, turun temurun, antara para rasul dan para pengganti mereka, yakni para uskup. Hubungan ini tidak boleh dilihat semacam “estafet”, yang di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada uskup sekarang. Yang disebut apostolik bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis ini pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya.

Gereja bersifat apostolik berarti Gereja mengakui diri sama dengan Gereja Perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis ini tidak dimengerti sebagai pergantian orang, melainkan segala kelangsungan iman dan pengakuan.

Sifat apostolik juga tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulang apa yang sejak dahulu diajarkan dan dilakukan Gereja. Keapostolikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh Kudus, dan Gereja senatiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Gereja selalu membaharui dan menyegarkan dirinya. Sifat apostolik harus mencegah Gereja dari rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Dalam hal ini, seluruh Gereja tidak hanya bertanggung jawab atas ajaran Gereja, tetapi juga dalam pelayanannya.

Singkatnya, Gereja disebut apostolic karena Gereja berhubungan dengan para rasul yang diutus Kristus. Hubungan itu tampak dalam:
  • Legimitasi fungsi dan kuasa hierarki dari para rasul. Fungsi dan kuasa hierarki dari para rasul.
  • Ajaran-ajaran Gereja diturunkan dan berasal dari kesaksian para rasul
  • Ibadat dan struktur Gereja pada dasarnya berasal dari para rasul.

2. Mewujudkan keapostolikan Gereja

Keapostolikan Gereja tidak berarti Gereja sekarang hanya merupakan copyan dari Gereja para rasul. Gereja sekrang hanya terarah kepada gereja para rasul sebagai dasar dan permulaan imannya. Karena pewartaan para rasul dan penghayatan iman mereka terungkap dalam Kitab Suci, maka sifat keapostolikan gereja akan tampak terutama dalam kesetiaan kepada Injil. Kesatuan dengan Gereja purba adalah kesatuan hidup, yang pusatnya adaah Kitab Suci dan Tradisi. Secara konkret, tradisi selalu merupakan konfrontasi terus-menerus antara situasi gereja sepanjang masa dan pewartaan Kitab Suci. Gereja harus senantiasa menafsirkan dan mengevaluasi situasi konkret berpangkal pada sikap iman Gereja para rasul.

Jadi usaha untuk keapostolikan Gereja, antara lain:
  • Setia dan mempelajari Injil, sebab Injil merupakan iman Gereja para rasul.
  • Menafsirkan dan mengevaluasi situasi konkret dengan iman Gereja para rasul
  • Setia dan loyal kepada hiararki sebagai pengganti para rasul


Sumber:
1. Iman Katolik
2. Seri Murid-murid Yesus
3. Dewasa dalam Penghayatan Iman

12 March 2009

Berdialog dengan Islam

Gereja katolik secara resmi telah mengajak agar persaudaraan sejati dengan umat islam senantiasa diteguhkan dan dikembangkan dengan dialog-dialog yang serius. Dialog dapat diteguhkan dan dikembangkan dengan aneka cara, baik dalam tataran wacana/pandangan maupun dalam tataran praktis, dengan aneka karya atau perbuatan yang dilakukan bersama. Dasar dialog sendiri harus terus dikembangkan dengan terus mencari kesamaan, baik dalam keyakinan sejarah maupun dalam keprihatinan bersama. Agar ineraksi dapat berjalan dengan baik, maka umat Katolik perlu memahami beberapa pokok ajaran agama Islam dan ajaran Katolik terutama mengenai dialog dengan umat beragama Islam, sehingga dapat melakukan usaha membangun persaudaraan sejati.

A. Penjelasan Singkat Mengenai Ajaran Islam
1. Islam dan Umat Islam
Islam (bahasa Arab) berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, masuk ke dalam suasana damai, sejahtera, dan hubungan serasi, baik antar sesama manusia maupun antara manusia dengan Allah. Mereka mengimani bahwa agama Islam seluruhnya secara lengkap, sebagai suatu sistem, berasal dari Allah sendiri yang mewahyukan kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan malaikat Jibril.
Orang-orang muslimin merupakan sebuah kelompok yang terjalin erat berkat iman pada agama yang sama. Persekutuan muslimin ini disebut “ummah” atau “ummat”. Ikatan berdasarkan agama yang sama ini disebut “ukhuwah islamiyah” yang berarti persaudaraan islam.
Ummah ini seharusnya dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut “khalifah”. Sejak hancurnya ke-khalifa-an tahun 1256, karena dikalahkan oleh pasukan Mongol Hulagu, umat Islam mengalami kekosongan kpemimpinan khalifah sampai sekarang.

2. Tauhid, Nama-nama, dan Sifat-sifat Allah
Islam merupakan agama monotheis dengan tekanan yang amat kuat pada Allah yang Mahabesar (“Allahu akbar” menjadi seruan yang kerap digunakan di mana-mana). Allah yang diimani mempunyai 20 sifat dan 100 nama yang indah. Orang muslim yang saleh mencoba mengucapkan keseratus nama Allah yang indah itu dengan pertolongan tasbih yang berupa sebuah untaian 100 butir-butiran.
Monotheisme Islam (yang disebut “tauhid”) sedemikian ditekankan sehingga tak ada toleransi sedikitpun terhadap apapun yang mengaburkan keesaan Allah. “Syirik” atau mensyarikat-kan Allah, berarti menempatkan sesuatu, betapapun kecilnya di samping atau sejajar dengan Allah. Syirik merupakan dosa besar. Penyembahan berhala merupakan dosa yang tidak dapat diampuni. Islam mendefinisikan penyembahan berhala secara konsisten dan seksama.
Jihad (perang suci) sebagaian berkembang sebagai tanggapan terhadap penyembahan berhala. Allah dipahami sebagai pencipta segala sesuatu dan oleh karena iu Allah harus diterima dan disembah semua orang. Seorang penyembah berhala menjadi sasaran serangan karena merupakan ancaman bagi Islam dan melakukan syirik.
Para sarjana Islam mengenal empat macam jihad atau “perjuangan mati-matian”, yaitu Jihad hati (perjuangan rohani), jihad tangan (perjuangan fisik, kerja, tugas), jihad lidah (perjuangan dalam pewartaan), dan jihad pedang (perjuangan dalam peperangan).

3. Iman Islam
Kesaksian pokok iman Islam dirumuskan dalam kalimat syahadat yang terdiri atas dua kalimat (karena itu dinamakan dua kalimat syahadat). Yang pertama kesaksian atas Allah yang Mahaesa, sedangkan yang kedua kesaksian atas Muhammad sebagai rasul Allah. Kalimat syahadat ini diucapkan pada waktu orang menjadi muslim (sebagai ucapan upacara inisiasi dari non-Islam ke Islam dan waktu akad nikah). Syahadat akan Allah yang Mahaesa ini merupakan salah satu dari keenam rukun iman dalam Islam.
Kelima rukun iman lainnya adalah iman dan percaya pada Malaikat, Kitab Suci Alquran, Rasul, hari Kiamat, dan Takdir Ilahi.. Islam mengajarkan bahwa dalam kurun waktu tertentu Allah memberikan wahyuNya kepada manusia tertentu dengan perantaraan malaikat Jibril. Orang yang mendapat wahyu ini disebut nabi. Bila nabi itu diutus mewartakan wahyu yang diterimanya itu kepada orang-orang lain, ia disebut rasul, yang berarti utusan Allah.
Wahyu yang diberikan kepada para nabi berupa sebuah Kitab Suci yang merupakan kutipan langsung dari induk Kitab Suci (ummal kitab) yang tersimpan di surge (al lauh al mahfudz). Allah memberikan Alquran kepada segenap umat manusia melalui Muhammad, dalam bahasa Arab dan merupakan Kitab Suci terakhir dan tersempurna dari segala kitab yang pernah ada.
Kedudukan Alquran dalam kehiduapan umat Islam sangatlah sentral, melebihi kedudukan Muhammad sendiri. Di dalam Alquran termuat wahyu ilahi sendiri secara sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Termuat di dalamnya segala sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam segala aspek kehidupannya baik yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan (= ibadah) maupun yang mengatur kehidupan antar manusia (=mu’amalat). Karena itu, Alquran sangat dihormati. Membacanyapun merupakan suatu ibadah yang sangat mendatangkan pahala, tidak hanya bagi yang membacanya tetapi juga bagi yang mendengarkannya. Supaya sebanyak mungkin orang dapat memperoleh pahala, pembacaan Alquran tidak hanya dalam hati, tetapi dengan suara yang dapat didengarkan juga oleh orang lain.
Di dalam Alquran disebutkan juga berbagai tokoh dari Perjanjian Lama. Isa bin Maryam dikemukakan dengan panjang lebar sebagi nabi yang istimewa, bahkan disebut sebagai kalimat Allah, tetapi Dia bukanlah Allah. Maria diceritakan berkaitan dengan Isa al Masih bin Maryam ini (surat al Maryam)

4. Arkan al-Islam: Rukun Islam
Sebagi orang muslimin sikap yang tepat bagi seseorang dihadapan Allah adalah takwa dan takut kepada Allah, taat dengan segala perintahNya, sebagaimana dituliskan dalam Alquran. Manusia adalah hamba Allah dan abdi Allah. Kewajiban-kewajiban pokok yang harus dijalankan oleh setiap orang muslim terangkum dalam lima rukun Islam atau pilar penyangga keislaman (arkan al Islam), yakni: syahadat, sholat lima waktu, saum (puasa dalam bulan Ramadhan), zakat, dan haji.

5. Al Ahkam al Khamsa: Hukum Islam
Tujuan hidup manusia adalah mencari ridha Ilahi, mecari perkenanan Allah, hidup sedemikian rupa sehingga Alla tidak marah, melainkan berkenan. Perbuatan-perbuatan yang berkenan pada Allah (disebut halal) medatangkan pahala bagi pelakunya. Sebaliknya, perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kemarahan Allah (disebut haram) menimpakan hukuman pada pelakunya.

Ada lima hukum Islam, yakni
a. Wajib atau Fardh (harus dilakukan)
b. Sunnah atau Mustahabb ( sebaiknya dilakukan)
c. Mubah atau Jaiz (diperbolehkan)
d. Makruh (sebaiknya tidak dilakukan)
e. Haram (dilarang)

Halal haramnya sesuatu dapat diketahui dari Alquran sendiri. Bila tidak ada di dalam Alquran, diaculah sumber yang kedua yakni Sunnah Nabih (perkataan, tingkah laku, dan perbuatan nabi Muhammad sendiri). Sunnah nabi dikumpulkan dalam kitab-kitab yang disebut Hadist. Hadist berarti tradisi, teapi di sini adalah tradisi atau adat kebiasaan Muhammad itu sendiri.

6. Tassawwuf: Mistik dalam Islam
Dalam sejarah perkembangan umat Islam, ilmu Figh (hukum Islam) menempati peranan yang utama. Karena terlalu menekankan hukum, muncullah penghayatan keagamaan yang sangat legalistis. Hubungan dengan Allah menjadi kering, sehingga muncullah gerakan mistik dalam umat Islam dan cara penghayatan keagamaan ini dikenal dengan nama “tasawwuf”., sedangkan orang yang menjalankan cara hidup ini disebut sufi. Hampir semua wali dari wali songo yang menyebarkan Islam di pulau Jawa adalah orang-orang sufi.

B. Ajaran Agama Islam dan katolik tentang Sikap terhadap Agama Lain
Sikap Islam terhadap agama lain terungkap dalam:
1. Surat Al Baqarah 62
Dalam hubungan dengan agama lain, agama Islam mempunyai sikap dasar toleransi yang tinggi. Toleransi Islam digariskan langsung oleh Allah dalam Alquran. Misalnya dalam Surat Al Baqarah 62 disebutkan “Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang Yahudi dan Nasrani dan Kaum Shobiin itu adalah orang-orang yang percaya kepada Allah, hari kiamata dan beramal soleh maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya, dan tidak ada ketakutan bagi mereka dan juga tidaklah mereka merasa patah hati.”

2. Surat Al Maidah 83
Dalam Surat Al Maidah 82 juga disebutkan: “ Dan sesungguhnya kamu akan mendapatkan orang-orang mukmin ialah mereka yang menyatakan dirinya kami adalah orang-orang Nasrani.”
Dalam Islam juga ada keyakinan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Bahkan Nabi Muhammad sendiri telah banyak memberi contoh bagaimana ia menghormati dan menyayangi orang-orang yang beragama lain.

Ajaran Katolik tentang sikap terhadap Islam
Dalam dekrit Konsili Vatikan II, tentang hubungan Gereja dengan agama-agama bukan Kristen (Nostra Aetate 3), sikap Gereja Katolik terhadap Islam dirumuskan sebagai berikut:
“Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, penuh belas kasihan, maha kuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetapan Allah yang juga bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham-iman Islam dengan rela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Mereka menghormati Yesus sebagai nabi. Mereka juga menghormati Maria bundanya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan Hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit, maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susilah, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah, dan berpuasa.
Memang benar dis epanjang sejarah cukup sering telah timbul pertikaian dan mendorong permusuhan antara umat Kristen dan Muslimin. Konsili suci mendoroang mereka semua supaya melupakan yang sudah-sudah dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan social bagi semua orang, nilai-nilai moral, maupun perdamaian dan kebebasan.”

C. Dialog Membangun Persaudaraan Sejati dengan Islam
1. Bentuk-bentuk dialog
a. Dialog kehidupan
Dalam kehidupan bermasyarakat dapat terjadi bahwa kita berdampingan dengan sesame saudara Islam. Kita harus berusaha untuk hidup rukun dan saling bertegur sapa.

b. Dialog Karya
Ada banyak karya demi kepentingan umum dan demi kemanusiaan yang mendorong kita untuk bekerja sama. Dalam kerja sama itu kita akan lebih dekat dan lebih mengenal satu sama lain.

c. Dialog Teologis (doktrin)
Ada banyak ajaran Islam yang indah dan menyelamatkan. Konsili vatikan II mengatakan bahwa dalam agama Islam pasti ada banyak kebenaran dan keselamatan yang dapat kita timba. Demikian juga sebaliknya.

d. Dialog Iman
Kita saling mensharingkan kesaksian hidup kita sebagai seorang beriman, dapat juga saling meneguhkan

2. Menghilangkan rasa curiga dan membangun persaudaraan sejati
a. Hal-hal yang dapat menghambat pelaksanaan dialog antara lain:
- sikap saling curiga kepada satu sama lain;
- issue Kristenisasi dan Islamisasi
- takut dan curiga
- menutup diri
- menganggap diri paling baik dan yang lain salah, dsb
b. Kita dapat menghilangkan sikap saling curiga dan arogansi antara lain dengan saling membuka diri, berusaha untuk saling mengenal; saling mengunjungi dalam kesempatan-kesempatan tertentu; bahu membahu untuk menyelesaikan masalah bersama; saling menghormati.

Sumber:
1. Iman Katolik
2. Seri Murid-murid Yesus
3. Dewasa dalam Penghayatan Iman

SEJARAH DAYAK
Banyak teori/ pendapat tentang asal-usul orang Dayak. pendapat yang diterima umum menyatakan bahwa orang.....   »»»»

MANGKOK MERAH
Di bawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang sampai saat ini masih terpelihara, dan dalam dunia supranatural Suku.....   »»»»

PANGLIMA BURUNG
Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa.......   »»»»
KOTAK CHATTING

ShoutMix chat widget

Copyright © 2009 by Widi Agung "Tekek" Nugroho

Template by Blog Templste 4 U | Edited By Free Download